Biografi Singkat – Bp Chozin

Biografi Singkat – Bp Chozin

Biografi Singkat – Bp Chozin

Biografi Singkat – Bp Chozin
Biografi Singkat – Bp Chozin

Inilah sebagian dari kisah hidupku, yang saya mulai ketika aku lulus PGA 6 tahun, waktu itu tahun 1980. Kedua orang tuaku mendambakan anak-anaknya mengikuti langkahnya sebagai guru, aku nurut saja ketika orang tuaku mencarikan perguruan tinggi swasta di Kota Kudus, sebuah Universitas yang baru saja berdiri di tahun itu, semula bernama Sekolah Tinggi Ekonomi kemudian dilebur menjadi Universitas Muria Kudus, dengan tiga fakultas yakni Ekonomi, Hukum dan FKIP. Dari FKIP ada dua jurusan, Bimbingan Penyuluhan dan Bahasa Inggris, lalu aku pilih BP, tes dan diterima. Karena belum memiliki gedung yang permanen, kuliah sempat berpindah-pindah tempat. Awalnya nebeng di lantai dua Gedung Bioskop Garuda di kawasan Simpang Tujuh lalu pindah di SDN 1 Glantengan, pindah lagi di SMPN 1 Jl. Sunan Muria.

Kurang lebih satu tahun kuliah di UMK aku mulai bosan, hati kecilku seakan berontak, aku mulai tidak menyukai kuliah di jurusan ini. Meski aku naik tingkat dua aku nekat keluar dan mencari lagi perguruan tinggi lain yang sesuai dengan pilihan hatiku. Pilihanku jatuh pada Perguruan Tinggi di Semarang yakni APPD (sekarang bernama STIK) Akademi Publisistik Pembangunan Diponegoro.

Ya, aku ingin menjadi penyiar radio, dan di APPD ini banyak mencetak tenaga-tenaga profesional di bidangnya seperti wartawan, Humas, ahli periklanan dan tentunya penyiar. Tahun 1981 aku masuk perguruan tinggi ini dan setahun kemudian aku sudah diterima menjadi penyiar sebuah radio Swasta Nasional di Semarang. Ya, Radio di tahun 80-an masih merupakan primadona karena belum ada TV swasta. Waktu itu baru ada TVRI itu pun baru bisa dinikmati malam hari, jadi penyiar radio adalah dambaanku. Waktu itu untuk menjadi penyiar radio tidak seperti sekarang yang harus menguasai IPTEK, harus mampu berbahasa asing, menguasai ensiklopedia musik, berwawasan luas … dsb. Kala itu asal bisa baca formulir dan menguasai lagu-lagu bisa jadi penyiar.

Dunia radio adalah dunia yang sangat menyenangkan, selain aku bisa kuliah dengan biaya sendiri aku juga bangga bisa menyisihkan sebagian gajiku untuk orang tua dan adik-adikku di desa. Sore hari aku kuliah, pagi atau malamnya aku siaran. Tahun-tahun itu orang-orang lagi demam sandiwara radio. Promosi paling tepat waktu itu adalah radio, bukan Koran atau TV karena tidak sembarang orang punya TV atau langganan koran. Jadi penyiar radio tidak beda dengan seorang artis banyak sekali pendengar atau penggemarnya baik di kota sampai di pelosok desa. Selain bisa siaran aku juga mulai bisa bikin jingle atau rekaman iklan sendiri. Banyak sekali produk-produk iklan buatanku ada produk rokok, rumah makan, toko kaset, toko mas, toko bahan bangunan, bioskop, tabib sampai iklan show artis ibukota yang kala itu main di GOR Simpang Lima atau THD aku yang buat. Khusus untuk iklan show di THD aku selalu mengganti iklan itu seminggu sekali. Karena di THD setiap malam minggu selalu ada show baik artis lokal atau dari ibukota. Bahkan tidak jarang sebelum show artis-artis itu selalu singgah di studio radioku untuk jumpa penggemar dan promo album, dan aku yang selalu diminta untuk mewawancarai. Tak heran jika di koleksi album foto di rumahku isinya banyak foto-foto bersama artis, ada foto bersama Camelia Malik, Mansyur S, A. Rafiq, Rita Sugiarto, Edy Silitonga, Vina Panduwinata, Elvy sampai Rhoma Irama. Khusus untuk bisa foto dengan Rhoma Irama ini memang tidak di studio radio melainkan di PRPP waktu itu Rhoma akan melantik pengurus PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu – Dangdut Indonesia) Tingkat Jawa Tengah. Selain kenal dengan banyak artis aku juga banyak bergaul dengan para mubaligh, karena radio tempat aku siaran adalah radio dakwah, Radio PTDI (Pendidikan Tinggi Dakwah Islam) jadi tiap hari aku hampir dipastikan bertemu dnegan para mubaligh itu.

Sumber : https://andyouandi.net/

Anda mungkin juga suka...