Bukan karena Hacker, Masalah Server UNBK SMP Ada di Aplikasinya

Bukan karena Hacker, Masalah Server UNBK SMP Ada di Aplikasinya

Bukan karena Hacker, Masalah Server UNBK SMP Ada di Aplikasinya

Bukan karena Hacker, Masalah Server UNBK SMP Ada di Aplikasinya
Bukan karena Hacker, Masalah Server UNBK SMP Ada di Aplikasinya

Terganggunya server Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMP yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menuai sejumlah sorotan. Salah satunya dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Pasalnya, gangguan itu memberikan kesan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak cukup baik mempersiapkan pelaksanaan ujian.

Kepada JawaPos.com, APJII menyampaikan sejumlah persoalan yang telah dianalisisnya. Termasuk titik kelemahan dari persoalan tersebut. Menurut Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga APJII, Tedi Supardi, server yang terganggu dikarenakan persoalan antrean yang membludak di aplikasi layer 7.

“Ini tidak ada isu hacker, tidak ada isu bandwidth yang kecil dan tidak ada isu internet exchange, ini hanya isu aplikasi saja di server yang memang query-nya terlalu besar,” ujar Tedi, Senin (23/4).
UNBK SMP
UNBK SMP. Sejumlah siswa saat mengikuti ujian di sekolahnya. (JawaPos.com)

Karena, lanjut Tedi, saat pelaksanaan awal UNBK di wilayah Indonesia Timur

, yang sekitar 22 ribu server, semuanya masih berjalan aman. Namun karena waktu pelaksanaan di wilayah lain hampir bersamaan maka aplikasi CBT UNBK pun terganggu.

“Jadi, setting-an atau antrean aplikasinya kemungkinan kecil. Namun setelah satu jam dibuka lebih besar untuk query-nya baru bisa terlaksana lagi ujian,” paparnya.

Menurut Tedi, aplikasi UNBK sendiri bisa seperti buah simalakama. Dikarenakan jika dibuka antreannya secara luas bisa ada flooding dari hacker, tapi di sisi lain kalau dibuka kecil bisa terjadi hal gangguan seperti sekarang ini.

“Kemarin itu dibuka sedang (tidak besar dan tidak kecil) dibuka untuk wilayah Tengah.

Jadi, di wilayah Barat diperbesar query setting-an server aplikasinya,” terangnya.

Tedi juga menerangkan penyebab UNBK SMP lebih bermasalah servernya. Hal ini dikarenakan adanya penambahan server dibandingkan UNBK SMA dan SMK yang lalu.

“Server di wilayah Barat sekitar 55 ribu server, belum yang Tengah dan Timur. Ini memang seharusnya diantisipasi, tapi terkadang saat simulasi dan live (langsung) berbeda kenyataannya,” tegasnya.

Karena itu, APJII melihat Kemendikbud harus menjadikan ini pelajaran,

jika diketahui ini persoalannya ada pada aplikasi server, maka harus segera dibenahi dengan total.

“Tidak dimungkiri kondisi lapangan dan simulasi memang bisa berbeda dan secara teknis dapat terjadi hal-hal di luar kemampuan. Saran kami perbaiki ranah infrastruktur dan internetnya itu. Jadi ke depan mesti diantisipasi lebih baik lagi,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://nashatakram.net/kalimat/