Jadi penyiar kala itu memang serba enak

Jadi penyiar kala itu memang serba enak

Jadi penyiar kala itu memang serba enak

Jadi penyiar kala itu memang serba enak
Jadi penyiar kala itu memang serba enak

Jadi penyiar kala itu memang serba enak, apalagi saat seperti aku ini, masih bujang dan kata orang-orang aku ini tampan tidak heran jika hampir tiap hari aku mendapatkan kiriman buah-buahan seperti durian, rambutan, semangka bahkan pendengarku yang di pesisir utara seperti di Morosari Sayung, Mangkang Ngebruk sering membawakan hasil tambak / laut seperti udang, banding, dll. Belum lagi setiap minggunya aku selalu mendapat voucher nonton bioskop / tempat-tempat hiburan, dan masih ada lagi makan gratis di beberapa rumah makan yang setiap harinya pasang iklan di radioku. Selain terima gaji bulanan aku juga sering mendapatkan honor atau fee dari pembuatan spot iklan / jingle malah jumlahnya lebih banyak dari gaji bulananku. Itu sebabnya aku sama sekali aku tidak tertarik ketika teman-temanku seangkatan lulusan PGA mengajakku melamar jadi guru PNS apalagi Guru Agama. Kalau tidak salah ingat waktu itu (tahun 1985 – 1987) gaji PNS Guru ± Rp 29.900,- untuk golongan II/a. Padahal penghasilanku sebagai penyiar waktu itu sudah Rp 300.000,- lebih. Tahun 1985 itu pula aku sudah bisa membeli motor Honda keluaran terbaru yaitu Honda Astrea 800.

Hidup sebagai penyiar rasanya segalanya sudah aku dapatkan, termasuk istri. Aku menikah tahun 1988 dan lahir anak pertama tahun 1989. Sepuluh tahun sudah aku siaran di PTDI kulalui dengan penuh suka dan duka. Nampaknya aku mulai bosan dengan rutinitas dari itu ke itu saja. Tahun 1992 aku ingin meningkat dan berkembang, aku hengkang dari PTDI dan pindah ke Radio Lusiana, yang waktu itu terkenal sebagai The Best-nya radio dangdut Semarang. Tahun-tahun itu masih jarang radio yang pindah frekuensi dari AM ke FM sehingga aku masih bisa berharap masa jaya seperti di PTDI bisa kutemukan di sini.

Tahun 1993 Radio Lusiana mengembangkan sayapnya dengan membuat radio baru di jalur FM yaitu Radio Rasika yang berlokasi di belakang Pasar Ungaran tepatnya di Jl. Semangka No. 7 Ungaran. Radio ini fokus sebagai Radio News. Artinya 60% dari seluruh siaran ini adalah informasi dan sisanya adalah hiburan. Aku yang sudah pernah belajar jurnalistik di APPD diminta untuk terlibat di dua radio ini. Mengasyikkan memang, malam siaran di Lusiana dan kalau siang sibuk cari berita. Kebetulan di Rasika ada empat orang yang stand by di Kanwil Deppen & Balai Kota Jl. Pemuda, temanku ada yang di Polda, ada yang di Kantor Gubernur dan satu lagi memantau keramaian dan kepadatan jalan raya di seputar Johar sampai Kaligawe. Tugas sebagai jurnalis radio ini masih banyak dibantu relawan-relawan dari kalangan pendengar, seperti di Salatiga ada satu relawan yang aslinya orang Papua, profesinya tukang becak. Orang ini gigih menyuarakan jeritan kaum marginal namanya Oto Mayor. Dan masih banyak lagi pendengar atau lebih tepatnya para pengendara mobil yang turut andil memberikan kontribusi demi lengkapnya pemberitaan di Rasika khususnya berita mengenai cuaca dan keadaan jalan-jalan raya yang padat di Semarang dan sekitarnya.

Sempai sekitar tahun 1995 radio memang masih diperhitungkan. Baru mulai tahun 1997, 1998, 1999 dunia radio mulai gonjang-ganjing. Munculnya banyak televisi swasta membuat periklanan radio mulai kacau. Tahun-tahun itu orang menyebut masa krisis, ada radio yang mulai gulung tikar. Income radio dari periklanan mulai menipis, hal ini pun berpengaruh terhadap penghasilanku tiap bulannya.

Suatu hari saya ditelepon adik saya yang bekerja di Pemkab Grobogan, yang mengatakan bahwa aku telah didaftarkan sebagai CPNS Depag dan dua hari lagi aku harus ikut tes tertulis di MAN Purwodadi. Sebenarnya aku masih belum tertarik dengan permintan ini, sehari kemudian aku juga ditelepon ayahku supaya aku menyediakan waktu untuk esok hari aku bisa ikut tes seleksi CPNS. Karena permintaan ini datangnya dari orang tuaku dengan terpaksa aku berangkat juga ke Purwodadi, demi membuat lega hati kedua orang tua dan adik-adikku. Masih terngiang ucapan ayahku waktu telepon yang berpesan “Usiamu hampir 40 tahun kurang 6 bulan, inilah kesempatan pertama sekaligus terakhir kamu ikut tes CPNS, tahun depan kamu tidak punya kesempatan lagi, mumpung presidennya Gus Dur” itu pesan ayahku yang selalu terngiang di telingaku.

Saat mengikuti tes CPNS itu berjalan biasa-biasa saja, begitu juga hari-hari setelah itu, sebulan terlewati dan ketika aku sudah lupa bahwa aku pernah ikut tes CPNS terlebih lagi aku sudah kembali larut dalam rutinitas kerjaku sebagai broadcaster dan jurnalis, aku mendapat kabar dari adikku di Purwodadi yang mengabarkan aku diterima sebagai CPNS, Alhamdulillah.

Perasaanku campur aduk, antara senang, sedih dan stres. Senang karena punya masa depan yang jelas, sedih karena harus meninggalkan profesi yang aku rintis selama ini, terlebih lagi stres rasanya bila membayangkan harus menjadi Guru, satu pekerjaan yang selama ini aku hindari, aku lupakan, bahkan aku menganggap pekerjaan ini momok dalam hidupku. Kalau tidak karena orang tua mungkin tidak aku jalani profesi baru ini.

Baca Juga : 

Anda mungkin juga suka...