Kasus serangan siber terheboh 2017

Kasus serangan siber terheboh 2017

Kasus serangan siber terheboh 2017

Sepanjang 2017 serangan siber banyak melanda negara-negara dunia. Indonesia juga tidak luput dari serangan siber jenis ransomware yakni sejenis aplikasi perangkat yang dapat merusak sistem komputer dari jarak jauh.

Ransomware yang menyerang Indonesia adalah jenis WannaCry yang memanfaatkan kelemahan sistem pengamanan pada Sistem Operasi Windows yang telah ditambal Microsoft melalui Security Update Patch.

Ada pula ransomware yang sempat mengancam Indonesia yaitu Petya. Mirip dengan WannaCry, namun mekanisme Petya dinilai lebih bagus dari WannaCry.

Tidak hanya WannaCry dan Petya, dunia juga masih terancam dengan serangan siber Buleborne, serangan siber jenis DDoS, serangan yang menargetkan mesin ATM dan ancaman serangan siber pada aplikasi Spyware.

Selain itu, dunia juga dihebohkan dengan tudingan Amerika Serikat kepada Korea Utara sebagai dalang serangan siber WannaCry. AS juga mencurigai Kaspersky Lab sebagai kaki tangan Rusia. Persoalan AS dengan Kaspersky Lab tersebut masih berlangsung hingga saat ini.

Berikut rangkuman ANTARA News tentang kasus serangan siber terheboh 2017.

Ransomeware WannaCry

Serangan siber ransomeware sempat menyerang Indonesia pada awal 2017. Setidaknya dua rumah sakit di Jakarta yaitu Dharmais dan Harapan Kita yang disinyalir diserang ransomware berjenis WannaCry pada 12 Mei 2017 yang menyebabkan data pasien dalam jaringan komputer rumah sakit tidak bisa diakses.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menggelar temu media pada 14 Mei 2017 dan mengatakan bahwa Kominfo telah berkoordinasi dengan Rumah Sakit Dharmais untuk menanggulangi serangan tersebut.

Kementerian ini sigap mempersiapkan tim khusus menghadapi persoalan ini yang antara lain meliputi Direktorat Keamanan Kominfo dan pegiat keamanan siber, serta bekerjasama dengan sejumlah pihak dari luar Indonesia.

Pada 17 Mei 2017 Menkominfo mengklaim Indonesia sudah bebas virus ransomware

WannaCry yang sebelumnya menginfeksi setidaknya 200 ribu komputer di seluruh dunia.

Menurut Rudiantara, virus yang terpapar melalui jaringan data atau internet itu tidak berdampak signifikan di Indonesia lantaran tangkasnya pencegahan yang dilakukan yakni memutus hubungan internet dan membuat salinan data cadangan.

Ransomeware Petya

Ransomeware nampaknya masih mengintai Indonesia. Tidak lama setelah WannaCry, pada 29 Juni 2017 Kominfo kembali mengimbau masyarakat untuk mencegah serangan infeksi ransomware Petya yang kala itu tengah melanda secara global.

Menteri Kominfo Rudiantara, meminta masyarakat untuk membuat cadangan data

(backup data)sebelum mengaktifkan komputer mereka untuk mengantisipasi serangan tersebut.

Bagi pengelola teknologi dan informasi, Rudiantara meminta untuk menonaktifkan atau mencabut jaringan lokal (LAN) sementara hingga dipastikan aman.

Kominfo juga meminta agar menggunakan sistem operasi yang asli dan diperbarui secara berkala serta memasang anti-virus dan menggunakan kata kunci yang aman dan diganti secara berkala.

Meski begitu, Menkominfo mengatakan bahwa ransomeware Petya belum

menyebar di Indonesia. Menurut dia, penyebaran virus komputer yang mengenkripsi perangkat penyimpanan digital atau “hard disk” itu baru ditemui pada negara-negara di kawasan Eropa Timur, Eropa Barat, serta Asia Selatan.

 

Baca Juga :

Anda mungkin juga suka...