KEDUDUKAN DAN PERAN HAKAMAIN

KEDUDUKAN DAN PERAN HAKAMAIN

Dalam hal wewenang hakam dalam kasus syiqaq, terdapat perbedaan pendapat antarulama Fiqh.Menurut ulama Hanafi, qaul qadim Imam Syafi’I, sebagian pengikut madzhab Hanbali, Hasan al-Basri dan Ibn Qatadah, hakam tidak berwenang untuk menjatuhkan talaq suami terhadap istri dan dari pihak istri tidak boleh mengadakan khuluk tanpa persetujuan istri.  Pendapat mereka ini sebagai konsekuensi dari pandangan mereka bahwa hakam  tersebut hanya berstatus sebagai wakil. Hakam berwenang mengambil suatu keputusan hanya sepanjang dizinkan oleh suami istri yang mewakilkannya[13].

Sedangkan menurut pendapat yang lain yaitu sebagian pengikut Imam Hanbali yang lain, qaul jadid dari Imam Syafi’i, Ibn Munzir, Imam Malik, Ibn Abbas menyatakan bahwa kedua hakam berkedudukan sebagai hakim dan dapat memutuskan keputusan yang mereka anggap baik, apakah mereka harus bercerai atau berdamai kembali. Hal ini beralasan pada petunjuk ayat tersebut[14].

Sebagian ahli takwil berpendapat bahwa yang diperintahkan atau yang berhak mengirim seorang hakam adalah penguasa (hakim) yang menangani kasus tersebut. Ada juga yang berpendapat bahwa yang diperintahkan untuk mengirim hakam adalah suami dan istri yang berselisih.

Jika terjadi persengketaan antara suami istri, maka selayaknya mereka mendatangkan seorang hakam (mediator) dari keluarga kedua belah pihak untuk bermusyawarah mencari jalan keluar (solusi). Hakam disyaratkan harus orang yang adil, dari kerabat, dan mempunyai pengalaman dalam urusan rumah tangga (keluarga) dan pendapat yang lain tidak harus dari kerabat.

Hisyam berkata dalam hadisnya, “Wanita itu berkata,’Aku telah ridha terhadap kitab Allah, baik (terhadap sesuatu yang) bermanfaat bagiku maupun yang mudharat bagiku”.Lelaki itu berkata, ‘Adapun perpisahan, tidak’.Ali lalu berkata, ‘Engkau telah berdusta. Demi Allah, (janganlah engkau kembali) hingga engkau ridha (terhadap sesuatu), seperti istrimu ridha terhadap sesuatu itu”.

Cara penyelesaiannya ialah hakam dari pihak laki-laki berpartner dengan suami, sedang hakam dari pihak perempuan berpartner dengan istri.Setalah itu, masing-masing dari keduanya berkata kepada partnernya (suami atau istri tersebut), “jujurlah kepadaku tentang keinginan yang ada dihatimu’.apabila masing-masing dari kedua pasangan suami-istri itu jujur kepada kedua hakam tersebut, maka kedua hakam itupun berkumpul, dan masing-masing pihak dari mereka membuat sebuah janji dengan kawannya (hakam yang lain), “Hendaklah engkau jujur kepadaku tentang keinginan yang dikatakan partnermu kepadamu, niscaya aku akan jujur kepadamu tentang keinginan yang dikatakan partnerku kepadaku’. dengan cara seperti ini maka kedua hakam tersebut akan mengetahui perbuatan yang telah dilakukan oleh partnernya terhadap pasangannya. Dan para hakam tersebut akan tahu siapa yang berbuat zalim atau siapa yang bersalah, sehingga keduanya dapat mempertimbangkan dan mengambil keputusan[15].

Menurut Imam Abu Hanifah, sebagian pengikut Imam Hambali, dan Qaul Qadimdari Imam Syafi’i, hakam itu berarti wakil.Menurut Imam Malik, hakam itu sebagai hakim, sehingga berwenang memberikan keputusan sesuai dengan pendapat keduanya tentang hubungan suami istri yahg sedang berselisih itu, apakah ia akan memberikan keputusan perceraian atau ia akan memerintahkan agar berdamai kembali[16].

Dalam praktek peradilan agama di Indonesia, fungsi hakam terbatas yaitu untukmencari upaya penyelesaian perselisihan dan fungsi tersebut tidak dibarengi dengankewenangan untuk menjatuhkan putusan.Berarti setelah hakam berupaya mencoba mencaripenyelesaian diantara suami istri, fungsi dan kewenangannya berhenti sampai disitu.Hakam mempunyai fungsi kewajiban yang melaporkan kepada pengadilan sampai sejauhmana usaha yang telah dilakukannya, dan apa hasil yang telah diperolehnya selama hakammenjalankan fungsinya. Hakam hanya sekedar usaha penjajakan penyelesaian perselisihandiantara suami istri tanpa dibarengi dengan kewenangan mengambil putusan.

sumber :
https://bogorchannel.co.id/seva-mobil-bekas/

Anda mungkin juga suka...