Kriteria kesukaran Syar’i

Kriteria kesukaran Syar’i

Apabila kesukaran dijadikan dasar hukum bagi dispensasi dan kemudahan sayr’i maka ia mempunyai implikasi nyata dalam penetapan hukum dan fatwa. Sehingga penentuan konsep “kesukaran” dan kriteria yang ada di dalamnya merupakan satu hal penting yang tidak dapat diremehkan dan merupakan keniscayaan untuk dikaji. Secara umum para ulama membagi kriteria masyaqqah pada tiga bagian yakni:[12]

  1. Al-masyaqqah al-‘Azimmah(kesulitan yang sangat berat), seperti kekhawatiran akan hilangnya jiwa dan/atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan/atau anggota badan menyebabkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Masyaqqah semacam ini membawa keringanan.

2.Al-masyaqqah al-Mutawasithah (kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat juga tidak sangat ringan). Masyaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang sangat berat, maka ada kemudahan di situ. Apabila lebih dekat kepada masyaqqah yang ringan, makatidak ada kemudahan di situ. Inilah yang penulis maksud bahwa masyaqqah itu bersifat individual.

3.Al-masyaqqah al-Khafīfah (kesulitan yang ringan), seperti terasa lapar waktu puasa, terasa capek waktu tawaf dan sai, terasa pening saat rukuk dan sujud, dan lain sebagainya. Masyaqqah semacam ini bisa ditanggulangi dengan mudah yaitu dengan cara sabar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemaslahatan dunia dan akhirat yang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada masyaqqah yang ringan ini.

Menurut Al-‘Izz bin Abdussalam, kesukaran ada dua macam: Pertama, kesukaran yang tidak dapat lepas dari ibadah pada umumnya. Maksudnya pelaksanaan ibadah tidak mungkin terjadi tanpa disertai kesukaran tersebut, misalnya, kesukaran pada waktu wudhu dan mansi karena air yang sifatnya dingin, kesukaran melaksanakan puasa karena udara siang yang panas dan waktunya yang panjang, dan lain-lain. Kedua, kesukaran yang secara umum dapat terlepas dari ibadah, yaitu kondisi umum di mana ibadah dapat dilakukan tanpa disertai factor tersebut, misalnya kesukaran yang menimbulkan bencana dan kesukaran besar.[13]

Menurut Imam Asy-Syatibi, kesukaran menurut pengertian yang umum mengandung dua bentuk kesukaran, yaitu: Kesukaran yang mampu dipikul dan yang tidak mampu dipikul. Pembebanan hukum yang disertai kesukaran di luar kemampuan subjek hukum adalah bentuk taklif yang tidk mampu direalisasikan, dan bentuk ini mustahil dan tidak mungkin terjadi secra syar’i. Bentuk kesukaran yang dapat dipikul subjek hukum juga tidak akan dibebankan oleh asy-Syari’ kepada manusia apabila kesukaran tersebut di luar kebiasaan dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Asy-Syatibi jika kaesukaran sudah menjadi kebiasaan, maka ia bukan lagi sebuah kesukaran dan tidak dianggap sebagai bentuk kesukaran secara syar’i. Bentuk kesukaran tersebut bersifat alamiah dan sesuai hokum alam dan tidak menghalangi pada umumnya suatu tindakan.[14]

Menurut ulama Syi’ah, perbuatan yang mengandung masyaqqah ada dua macam: Pertama, apa yang masih mampu ditanggung menurut kebiasaan, dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan mereka hindari. Perbuatan ber-masyaqqah semacam ini boleh dibebankan, bahkan sebagian besar taklif masuk dalam dalam kategori ini. Kedua, apa yang dihindari oleh orang yang berakal dan mereka jauhi, serta tidak mereka laksanakan. Perbuatan ber-masyaqqah semacam ini tidak boleh dijadikan taklif, lepas dari apakah ia menimbulkan ketidakteraturan tatanan dunia atau belum menimbulkannya.[15]

Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis kesukaran ada dua macam, yakni: Kesukaran yang menurut kebiasaan yang berlaku di antara manusia mampu mereka tanggung dan mereka kerjakan. Misalnya kesukaran yang terjadi akibat puasa, haji dan sebagainya. Kesukaran lainnya adalah kesukaran yang menurut kebiasaan manusia di luar batas kemampuan mereka, sehingga ia tidak ditanggung kecuali dengan mengerahkan kemampuan tertinggi, misalnya kesukaran yang dapat menghilangkan jiwa.

Sumber :

https://montir.co.id/iphone-x-mulai-dikirim/

Anda mungkin juga suka...