Lentera Pengganti Matahari

Lentera Pengganti Matahari

Lentera Pengganti Matahari

Lentera Pengganti Matahari
Lentera Pengganti Matahari

Umumnya tumbuhan berfotosintesis saat siang. Sebab, pembuatan makanan pada tumbuhan hijau itu membutuhkan bantuan sinar matahari. Namun, proses fotosintesis tersebut ternyata tidak hanya bisa dilakukan saat siang. Malam pun bisa. Yakni, dengan bantuan spektrum cahaya dari lentera fotosintesis yang digagas Ghois Qurniawan.

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) itu mengatakan, riset tentang lentera fotosintesis tersebut dimulai pada awal Maret. Mulanya, dia tergelitik area persawahan yang cukup gelap. Berjalan kaki di pematang sawah pun riskan. ”Kita tidak tahu di situ ada lubang atau ada ular,” ujarnya.

Dia pun berinisiatif untuk membuat penerangan di area sawah. Namun, membuat penerangan saja tanpa ada fungsi yang lain malah seperti membikin lampu jalan biasa. Karena itu, Ghois pun memutar otak untuk lebih inovatif. Dia ingin lampu tersebut bisa bermanfaat juga untuk petani dan tanaman.

Riset demi riset dilakukan. Jadilah lentera fotosintesis. Alat itu cukup sederhana. Yakni, sebuah tiang besi yang di bagian atasnya dipasang lampu LED. Cahaya lampu tersebut menggantikan sinar matahari untuk proses fotosintesis saat malam.

”Kalau siang tidak menyala. Jadi, fotosintesis tetap dengan cahaya matahari,” terangnya. Saat malam, imbuh dia, alat akan menyala otomatis. Cahaya yang menerangi bisa bermanfaat bagi tanaman untuk kembali memproduksi makanan.

Tidak sembarang cahaya bisa digunakan tanaman untuk berfotosintesis. Ada spektrum cahaya tertentu yang memang dibutuhkan tanaman untuk membuat makanan. Karena itu, Ghois kembali melakukan riset.

”Ini salah satu tantangannya. Cari spektrum warna yang tepat. Juga, butuh berapa watt lampunya,” jelas mahasiswa yang selama riset dibimbing oleh dosen Teknik Elektro UMS Eddo Mahardika tersebut.

Untuk menambah wawasan terkait dengan hal itu, Ghois melakukan riset literatur.

Secara kasatmata, kata dia, sinar matahari memancarkan warna kuning. Itu memang gelombang cahaya yang tampak. Namun, jika dilihat dengan menggunakan kaca film, cahaya yang terlihat menjadi berbeda.

Dalam salah satu karya ilmiah yang dipelajarinya, dia menjadi tahu bahwa tanaman menyerap banyak warna merah dari sinar ultraviolet. ”Merah untuk peregenerasian sel hijau daun. Biru untuk pertumbuhan tanaman itu sendiri,” tuturnya.

Meski begitu, terlalu banyak warna merah juga akan membuat tanaman layu. Jadi, imbuh dia, komposisi cahaya pada alat harus disesuaikan. Dia membuat spektrum warna yang tepat dan hampir menyamai sinar matahari yang dibutuhkan tanaman. Dengan begitu, tanaman tidak cepat layu, tidak cepat kering, tetapi lebih cepat tumbuh.

Mahasiswa semester V itu sudah melakukan uji coba pada beberapa tanaman. Terutama pada tanaman pangan seperti jagung, padi, dan kacang-kacangan. ”Hasilnya tumbuh lebih cepat,” jelasnya. Untuk tanaman berkambium, Ghois belum mencobanya.

Selama tiga bulan, dia memberikan perlakuan berbeda pada tanaman yang sejenis. Satu tanaman mendapat cahaya hanya saat siang dari matahari. Satu tanaman lain mendapat cahaya pada siang dan malam. Siang dari cahaya matahari, malam dari lentera fotosintesis.

Hasilnya, tanaman yang tanpa sinar bisa berbuah, tapi kemudian mati. Padahal, Ghois

memberikan air yang sama dan tanah yang sama. Sementara itu, tanaman yang disinari lentera fotosintesis bisa berbuah dua kali. Daunnya juga masih hijau. Batangnya bagus. ”Lebih produktif karena bisa berfotosintesis,” terangnya.

Saat ini alat tersebut masih terkoneksi dengan listrik. Ke depan, tidak tertutup kemungkinan energi yang digunakan adalah solar cell atau tenaga matahari. Namun, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mewujudkannya. Ghois berharap area persawahan bisa disinari dengan baik. Dengan demikian, tanaman bisa lebih produktif. ”Mungkin ini bisa bekerja sama dengan pemda setempat untuk swasembada pertanian,” terangnya.

Saat ini pengembangan juga dilakukan. Yakni, dengan membuat pertanian di dalam gedung bertingkat. Tantangannya, tanaman indoor tidak bisa disinari terus-menerus dengan cahaya buatan.

Tanaman tetap membutuhkan sinar matahari yang memiliki kandungan lebih kompleks

. Tanpa cahaya matahari, tanaman akan rentan layu. ”Saya belum tahu kompleksitas apa saja yang terkandung dalam cahaya matahari, tapi mungkin bisa untuk ditambahkan nantinya,” jelasnya. Saat ini riset-riset terus berjalan. ”Bisa ditambahkan spektrum lagi,” tuturnya.

Kaprodi Teknik Elektro UMS Anang Widiantoro mengapresiasi inovasi yang dibuat oleh Ghois. Menurut dia, tanaman idealnya membutuhkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis. ”Tapi, malam hari tidak ada. Ini inisiatif bagus. Sangat inovatif,” jelasnya. Karena itu, dia mendorong para mahasiswa untuk membuat teknologi tepat guna yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan alat-alat inovatif tersebut bisa dipatenkan.

 

Sumber :

https://danuaji.kinja.com/ways-to-spread-environmental-education-online-1835886285