Mengenal Apa Itu Iklim

Mengenal Apa Itu Iklim

Mengenal Apa Itu Iklim

Mengenal Apa Itu Iklim
Mengenal Apa Itu Iklim

Iklim

adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang iklim dipelajari dalam meteorologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis. Secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan lintang tinggi. Ilmu yang mempelajari tentang iklim adalah klimatologi.

Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia, yang merubah komposisi atmosfer, sehingga akan memperbesar keragaman iklim teramat,i pada periode yang cukup panjang (Trenberth, Houghton and Filho. 1995).

Secara Statistik, Perubahan iklim adalah perubahan unsur-unsur iklim, yang mempunyai kecenderungan naik atau turun secara nyata, yang menyertai keragaman harian, musiman maupun siklus.

Perubahan iklim global tidak terjadi seketika, walaupun laju perubahan lebih cepat dibandingkan dengan perubahan iklim secara alami, tetapi perubahan terjadi dalam periode dekadal, sehingga issue perubahan iklim masih menjadi hal yang menimbulkan pro dan kontra.

Mekanisme Perubahan Iklim

Perubahan iklim disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK), setelah masa revolusi industri.  Semakin tinggi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup, maka akan semakin besar aktivitas industri, lalu lintas pembukaan hutan, usaha pertanian, rumah tangga dan aktivitas-aktivitas lain yang melepaskan GRK.  Akibatnya konsentrasi GRK di atmosfer akan meningkat.

Konsentrasi GRK menurut skenario IPCC tahun 2000

Tahun Penduduk dunia O3permukaan (ppm) Kons. CO2(ppm) Perub. Suhu global (0C) Kenaikan muka air laut (cm)
1990 5.3 354 0 0
2000 6.1-6.2 40 367 0.2 2
2050 8.4-11.3 ~60 463-623 0.8-2.6 5-32
2100 7.0-15.1 >70 478-1099 1.4-5.8 9-88

Selain terdapat sumber (source) yang beragam, di alam ini juga tersedia rosot (sink), yaitu lautan dan vegetasi (hutan).  Jumlah rosot ini relatif tetap ,sedangkan sumbernya selalu bertambah, sehingga terjadi ketidak seimbangan. Ditambah dengan umur keberadaan GRK di atmosfer yang panjang, maka tanpa upaya menekan emisi, konsentrasi GRK akan terus bertambah.

GRK  meliputi gas-gas Carbon Dioxida (CO2), golongan Chloro-Fluorocarbon (CFCs), Methana (CH4), Ozon (O3), dan Nitrogen Oksida (NOx).  Gas-gas tersebut berada di atmosfer, berfungsi sebagai mana kaca, yaitu melewatkan radiasi matahari ke permukaan bumi, tetapi menahan radiasi bumi agar tidak lepas ke angkasa.

Dalam jumlah tertentu, GRK dibutuhkan untuk menjaga suhu ekstrim bumi agar tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Tetapi jika jumlah radiasi bumi yang terperangkap di dalam atmosfer bumi berlebihan, maka atmosfer dan permukaan bumi akan semakin panas (suhu meningkat).

Ikhtisar Gas-gas Rumah Kaca di Atmosfer (Sumber: Killeen. 1996)

Gas Sumber Antropogenik utama Emisi Antropogenik / total per thn 106 ton Waktu residu Umur (tahun)
CO Pembakaran bahan bakar fosil dan biomas 700 / 2.000 bulanan 0,4
CO2 Pembakaran bahan bakar fosil dan Pembabatan hutan 5.500 / -5.500 100 tahunan 7
CH4 Pertanaman padi Peternakan, tanam Produksi bahan bakar fosil 300-400/550 10 tahunan 11
NOx Pembakaran bahan bakar fosil dan biomas 20-30 / 30-50 harian ***
NO2 Pemupukan Nitrogen

Pembabatan hutan

Pembakaran biomas

6 / 25 170 tahunan 150
SO2 Pembakaran bahan bakar fosil dan emisi bahan bakar 100-130 / 150-200 Harian – mingguan ***
CFCs Semprotan aerosol,

Pendingin, busa

-1 / 1 60-100 tahunan 8 – 110

Gas CO2 memberi kontribusi terbesar dalam pemanasan global, yaitu 50%.  Selanjutnya kontribusi hingga terkecil diberikan oleh gas-gas CFCs, CH4, O3, dan NOmasing-masing lebih kurang 20%, 15%, 8% dan 7%.

Uap air juga merupakan GRK, tetapi karena air dianggap tetap (alami), maka air tidak dianggap sebagai penyebab perubahan iklim oleh pemanasan global.

Perubahan iklim yang diperkirakan  akan menyertai pemanasan global adalah melelehnya permukaan es di kutub atau pegunungan tinggi, naiknya evaporasi yang disertai meningkatnya hujan di suatu tempat / waktu dan menurunnya hujan di tempat / waktu lain. Tinggi muka air laut akan terpengaruh baik oleh mengembangnya volume air, karena meningkatnya suhu maupun bertambahnya volume oleh lelehan gletser di kutub.

Penyebab Utama Perubahan Iklim

Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBByang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas.

Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! I

PCC juga menyimpulkan bahwa 90% GRK yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi.

Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer, bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global. Makin panasnya planet bumi dan berubahnya sistem iklim di bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia.

Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok peneliti yang disebut dengan Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim atau disebut International Panel on Climate Change (IPCC).

Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut .

Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan.

Tetapi, menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, “industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). ” Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!

Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam jangka 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat dari CO2). Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.   Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air.

Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak. Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan – Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock’s Long Shadow–Environmental Issues and Options), peternakan adalah “penggerak utama dari penebangan hutan. Kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak.

Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.

Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!

Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak, hanya untuk membuat sebuah hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk membuat hamburger dari kacang kedelai!

Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.

Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. 

Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:

  1. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak
  • Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya.
  • Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG).
  • Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan.
  • Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.
  • Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya
  1. Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan
  •  Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
  • Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
  1. Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
  • Emisi COdari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
  • Emisi COdari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.

Dari uraian di atas, dapat dilihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Di Australia, emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan lebih besar dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor peternakan Australia menyumbang 3 juta ton metana setiap tahun (setara dengan 216 juta ton CO2), sedangkan sektor pembangkit listrik tenaga batu bara menyumbang 180 juta ton CO2 per tahunnya.8

Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang berdiet vegan. Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat  mencegah satu setengah ton emisi gas rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.

Menjadi vegetarian adalah solusi yang paling mudah, murah, serta beradab untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, serta dan demi kesehatan tubuh. Hal tersulit untuk bervegetarian adalah mengenyahkan sugesti bahwa makan daging itu perlu.

Sugesti paling kuat-dan memprihatinkan-yang telanjur menancap di benak masyarakat adalah bahwa t ubuh akan lemas kalau tidak menyantap daging. Ini seakan mengingkari fakta bahwa daginglah penyebab banyak penyakit yang menurunkan kesehatan tubuh.

Namun, informasi seputar berbahayanya daging ini tak sampai ke masyarakat . Jika manusia bisa jernih berpikir, kalau melihat dampaknya, makan daging sebenarnya tidak perlu. Tetapi, sugesti yang menempatkan daging sebagai santapan penting, sulit diubah.

Tentu saja, kalau orang tiba-tiba bervegetarian, tubuhnya terasa kurang bertenaga, aneh, dan otak seperti kurang bisa berpikir. “Tapi, keadaan ini kan seperti perokok yang merasa aneh kalau mendadak berhenti merokok. Artinya adalah, itu hanya sugesti, efek psikologis (membuat ketagihan) sudah nyata terpapar.” kata Prasasto, profesor yang juga Guru Besar Fakultas Teknik UAJY ini.

Informasi seputar vegetarian masih diterima secara sepenggal-sepenggal. Vegetarian hanya dianggap gaya hidup demi kesehatan atau ajaran agama tertentu. Padahal lebih dari itu, pemanasan global, kerusakan lingkungan, hingga kepunahan hewan, banyak berpangkal dari daging, termasuk ikan. Terkait pemanasan global misalnya, tercermin dari borosnya energi untuk menghasilkan sepotong daging.

Mitos bahwa bervegetarian membuat orang bodoh, juga tidak benar. Banyak orang penting yang mengubah dunia dan mereka vegetarian, misalnya Albert Einstein, Socrates, Plato, Leonardo da Vinci, Charles Darwin, hingga RA Kartini, kata Prasasto.

Pilihannya ada di dapur Anda: Sekalipun seseorang memilih untuk menutup matanya terhadap kekejaman dalam pertanian pakan ternak, akan tetapi keadaan darurat untuk menghentikan perubahan iklim dan bagaimana cara melakukannya sangatlah jelas. Sekarang bukan hanya para vegetarian atau pencinta lingkungan yang mengatakannya; tetapi ketua dari sebuah badan internasional,

Dr. Pachauri, telah mengumumkan kepada dunia bahwa pengaruh makan daging telah merusak planet kita, dan bahwa kita harus menghentikan makan daging agar dapat membalikkan keadaan. Namun itu semua tergantung pada pilihan orang. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat Bumi ini menjadi lebih sejuk, lebih bersih, dan lebih sehat. Jadi mulailah dari dapur Anda: pilihlah diet vegetarian dan bantulah mengerem perubahan iklim.

Dampak Perubahan Iklim

Laporan “Stern Review on the Economics of Climate Change”6 merupakan laporan terbesar dan paling banyak diketahui serta didiskusikan di seluruh dunia. Laporan setebal 700 halaman ini disusun oleh Sir Nicholas Stern, Kepala Badan Ekonomi Pemerintah Inggris, dan menjabarkan berbagai dampak pemanasan global menurut kenaikan suhu udara setiap 1 derajatnya. Berikut ini sedikit ulasannya.

Suhu Udara Naik 1 ºC

  • Beberapa gletser kecil di Andes menghilang seluruhnya dan mengancam persediaan air bagi 50 juta orang.
  • Kenaikan moderat hasil panen sereal di wilayah beriklim sedang
  • Setidaknya 300.000 orang setiap tahunnya meninggal karena penyakit akibat perubahan iklim (terutama diare, malaria, dan kekurangan gizi), akan tetapi ada pengurangan angka kematian pada saat musim dingin di wilayah yang lebih tinggi (Eropa Utara, AS)
  • Lapisan es di belahan bumi utara mencair dan menyebabkan kerusakan jalan-jalan dan bangunan-bangunan di sebagian Kanada dan Rusia
  • Setidaknya 10% spesies darat akan punah, 80% terumbu karang rusak, termasuk Terumbu Karang Great Barrier terbesar di dunia yang terletak di timur laut Australia
  • Arus Teluk melemah

Suhu Udara Naik 2 ºC

  •  Air menyusut sebesar 20–30% di beberapa wilayah yang rentan, seperti Afrika bagian Selatan dan Mediterania
  • Hasil panen merosot tajam di wilayah-wilayah tropis (5-10% di Afrika)
  • 40-60 juta lebih orang menderita malaria di Afrika
  • Sekitar 10 juta orang lebih menderita banjir setiap tahunnya
  • 15-40% spesies terancam punah; spesies Kutub Utara, misal beruang kutub dan karibau, kemungkinan besar bisa punah
  • Lapisan es Greenland mulai mencair tak terkendali

Suhu Udara Naik 3 ºC

  • Di Eropa Selatan, kekeringan hebat terjadi sekali setiap 10 tahun;  
  • 1-4 miliar orang lebih menderita kekurangan air, sementara 1-5 miliar orang di tempat lain menderita banjir
  • 150-550 juta orang kelaparan
  • 1-3 juta orang lebih mati karena kekurangan gizi; penyakit seperti malaria tersebar luas ke wilayah-wilayah baru
  • 1-170 juta lebih orang di pesisir pantai menderita banjir
  • 20-50% spesies terancam punah, termasuk di sini, 25-60% mamalia, 30-40% burung, dan 15-70% kupu-kupu di Afrika Selatan; hancurnya Hutan Amazon
  • Bencana akibat cuaca yang berubah semakin meningkat, runtuhnya Lapisan Es Antartika Barat

Suhu Udara Naik 4 ºC

  • Persediaan air menyusut 30-50% di Afrika bagian Selatan dan Mediterania
  • Suhu udara yang bertambah panas menyebabkan lenyapnya gletser-gletser Himalaya dan mempengaruhi jutaan orang di China dan India
  • Panen merosot 15-35% di Afrika dan di seluruh lumbung produksi pangan dunia (misalnya di sebagian Australia)
  • 80 juta orang lebih menderita malaria di Afrika
  • 7-300 juta orang lebih di pesisir pantai menderita banjir setiap tahunnya.
  • Lenyapnya separuh wilayah tundra di Kutub Utara; hutan hujan Amazon mati; menyusutnya lapisan es menyebabkan naiknya air laut setinggi 7 meter

Suhu Udara Naik Di Atas 5 ºC

  • Bukti terbaru menunjukkan bahwa rata-rata suhu Bumi akan naik lebih dari 5 atau 6ºC bila emisi gas rumah kaca terus bertambah dan menimbulkan bahaya besar pelepasan karbon dioksida dari permukaan tanah dan pelepasan metana dari lapisan es di Kutub Utara maupun dari dasar laut.
  • Kenaikan suhu udara global ini akan setara dengan pemanasan global yang pernah terjadi pada Zaman Es terakhir dan, bila suhu Bumi sampai memanas 6ºC, dampaknya di luar perkiraan manusia.

Dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dipengaruhi oleh kerentanan  suatu sistem.  Dampak netto yang ditimbulkan merupakan selisih antara pengaruh awal dengan daya adaptasi sistem tersebut. IPCC  (2001) menggolongkan resiko akibat perubahan iklim menjadi resiko ekstrim sederhana dan resiko ekstrim komplek. Perubahan yang terjadi dapat bersifat menguntungkan atau merugikan yang bisa mempengaruhi sektor industri dan bisnis.

  1. Akibat yang bersifat menguntungkan :
    • Bertambahnya produktifitas tanaman di daerah beriklim dingin
    • Menurunnya resiko kerusakan tanaman pertanian oleh cekaman dingin
    • Meningkatnya runoff yang berarti meningkatnya debit aliran air pada daerah kekurangan air
    • Berkurangnya tenaga listrik untuk pemanasan
    • Menurunnya angka kesakitan dan angka kematian oleh cekraman udara dingin
  2. Akibat yang bersifat merugikan :
    • Meningkatnya tingkat kematian dan penyakit serius pada manula dan golongan miskin perkotaan
    • Meningkatnya cekaman panas pada binatang liar dan ternak
    • Perubahan pada tujuan wisata
    • Meningkatnya resiko kerusakan sejumlah tanaman pertanian
    • Meningkatnya tenaga listrik untuk pendinginan
    • Memperluas kisaran dan aktivitas beberapa hama dan vektor penyakit
    • Meningkatnnya banjir, erosi dan tanah longsor
    • Meningkatnya runoff yang berarti meningkatnya debit aliran air pada daerah basah
    • Akibat ekstrim kompleks (seluruhnya bersifat merugikan)
    • Berkurangnya produksi tanaman pertanian oleh kejadian kekeringan dan banjir
    • Meningkatnya kerusakan bangunan oleh pergeseran batuan
    • Penurunan sumberdaya air secara kualitatif maupun kuantitatif
    • Meningkatnya resiko kebakaran hutan
    • Meningkatnya resiko kehidupan manusia, epidemi penyakit infeksi
    • Meningkatnya erosi pantai dan kerusakan bangunan dan infrastruktur pantai.
    • Meningkatnya kerusakan ekosistem pantai seperti terumbu karang dan mangrove
    • Menurunnya potensi pembangkit listrik tenaga air di daerah rawan kekeringan
    • Meningkatnya kejadian kekeringan dan kebanjiran
    • Meningkatnya kerusakan infrastuktur

 

(Sumber: https://weareglory.com/)