Menteri Agama hingga Wapres Beri Dukungan di Tengah Pro-Kontra Netizen

Menteri Agama hingga Wapres Beri Dukungan di Tengah Pro-Kontra Netizen

Menteri Agama hingga Wapres Beri Dukungan di Tengah Pro-Kontra Netizen

Menteri Agama hingga Wapres Beri Dukungan di Tengah Pro-Kontra Netizen
Menteri Agama hingga Wapres Beri Dukungan di Tengah Pro-Kontra Netizen

Vonis 18 bulan penjara atas Meiliana, perempuan Tionghoa asal Sumatera Utara yang mengeluhkan pengeras suara masjid, ramai diperbincangkan di media sosial.

Banyak yang mendukung perempuan asal Kota Tanjungbalai itu dan mengecam vonis terhadapnya. Namun, tidak sedikit pula yang berseberangan pendapat.

Baca juga: NU dan ICJR Kecam Vonis 18 Bulan Penjara terhadap Perempuan yang Keluhkan Pengeras Suara Azan

Sekitar 16 jam setelah diterbitkan, berita VOA Indonesia berjudul “NU dan ICJR Kecam Vonis 18 Bulan Penjara terhadap Perempuan yang Keluhkan Pengeras Suara Azan” telah dikomentari hampir 300 kali.
Meiliana dijadikan tersangka setelah mengeluh karena kerasnya suara mesjid di dekat rumahnya.
Meiliana dijadikan tersangka setelah mengeluh karena kerasnya suara mesjid di dekat rumahnya.

Pengguna Facebook dengan akun “ARe R.I.P” meminta Meiliana untuk mencari tempat tinggal lain, “Kalo ngerasa terganggu” dengan suara masjid, “ke gunung (saja) yang ngga ada penghuni.”

Sementara netizen Hairul S Iroel menulis bahwa tindakan yang dilakukan Meiliana adalah preseden buruk yang jika dibiarkan, “lama-lama muslim beribadah akan dituntut mengalah, puasa hormati yang tidak puasa, sholat hormati yang tidak sholat.”

Dia menekankan bahwa umat Islam di Bali saja ”tahu diri saat Nyepi, harus tanpa listrik dan sinyal seluler”.

Komentar netizen di Facebook.

Komentar netizen di Facebook.

Meiliana menjadi tersangka kasus penistaan agama pada Maret 2017, setelah sekitar setahun sebelumnya, mengeluhkan pengeras suara masjid.

Berdasarkan surat dakwaan yang dikutip dari website resmi pengadilan, pada 29 Juli 2016, Meliana mengeluhkan volume suara masjid kepada tetangganya.

“Kak, tolong bilang sama uwak (paman) itu, kecilkan suara masjid itu, Kak. Sakit kupingku, ribut,” kata Meliana di surat dakwaan.

Namun, penasehat hukum perempuan itu mengklaim diksi yang digunakan kliennya adalah: “Kak sekarang suara masjid agak keras ya, dulu tidak begitu keras.”
Vonis terhadap Meiliana menimbulkan pro-kontra di lini massa.
Vonis terhadap Meiliana menimbulkan pro-kontra di lini massa.

Pernyataan itu berbuntut panjang. Setelah dijadikan tersangka,

Meiliana pun pada Selasa (21/08) dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama, oleh Pengadilan Negeri Medan.

Pemilik akun Facebook bernama Riska Wulan Dari menulis, “Minoritas yg harusnya tau diri. Muslim minoritas yg tinggal di Eropa aja tau diri, mereka menghargai yang mayoritas Kristen dengan menerima tidak boleh azan pake toa karena yang mayoritas Kristen. Lah ini minoritas mau ngatur mayoritas… di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Pro-Kontra Lini Massa

Pengguna lini massa Twitter juga ramai mengomentari kasus Meiliana

. Dukungan terhadap Meiliana cukup banyak bermunculan.

Salah satunya dari Linzy yang menyebut dakwaan dan vonis terhadap Meiliana bisa terjadi, karena masih rentannya pergolakan masyarakat, jika dihadapkan pada gesekan dengan orang yang berasal dari ras dan agama berbeda.

“Padahal aku ngeluh tiap hari karena Langgar kampung volume azan nya luar biasa banget sampe ndengung di kuping. Tapi aku ternyata engga se-nggak beruntungnya bu meiliana…,” cuit pemilik akun yang menggunakan foto berjilbab sebagai foto profilnya.

 

Baca Juga :