Monitoring Pertumbuhan

Monitoring Pertumbuhan

Untuk mengetahui pertumbuhan, setiap 2 minggu sekali dilakukan sampling sebanyak 10 % dari populasi/perlakuan dengan mengukur panjang dan berat ikan. Sedang sintasan ikan dihitung pada akhir fase pemeliharaan pendederan dan akhir fase penggelondongan saja. Pengukuran terhadap panjang dan berat benih merupakan cara yang paling sederhana untuk mengetahui pertumbuhan benih selama masa pemeliharan. Untuk menyederhanakan sekaligus mengurangi banyaknya penanganan, pemantauan pertumbuhan cukup dilakukan dengan pengukuran panjang individu.

Hal ini karena standar yang umum digunakan di pasaran adalah ukuran panjang benih. Pelaksanaan sampling sebaiknya dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti saat grading atau pengobatan.  Sampling dapat dilakukan setiap dua minggu sekali sebanyak 10% – 20% dari total biomasa dan sekaligus memperhitungkan prosentase tiap-tiap ukuran yang ada

Penyeragaman Ukuran (Grading) dan Pendederan

grading bertujuan untuk menyeragamkan benih yang ditempatkan dalam suatu wadah dengan tujuan mengurangi sifat kanibal. Benih kerapu cantang sudah dapat di grading pada umur D-35 sampai dengan D-40. Penanganan grading yang tidak hati-hati akan mengakibatkan ikan mudah stress.

Benih ikan kerapu ditangkap menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam baskom dan diberi aerasi. Benih tersebut masukkan ke dalam alat grading. Benih kerapu dipisahkan antara larva ukuran kecil, sedang dan besar. Larva yang sudah digrading, dimasukkan kedalam bak peneliharaan baru sesuai dengan ukurannya yaitu satu tempat utuk ukuran kecil, satu tempat untuk ukuran sedang dan demikian pula untuk ukuran yang besar.

Larva yang sudah digrading dipindahkan ke dalam baskom yang berisi air laut steril. Baskom yang berisi larva kemudian dipindahkan dan ditebar ke bak pendederan secara perlahan- lahan.

Weaning adalah salah satu cara yang dilakukan untuk merubah kebiasaan makan benih dari salah satu jenis pakan ke pakan lain.Pendederan dapat dilakukan langsung dalam bak. Untuk bak dengan kapasitas 10 mpendederan dapat  dilakukan dengan padat  penebaran 4.000 – 5.000 ekor

2.8. Pengendalian Hama dan Penyakit

penyakit pada ikan kerapu dapat disebabkan oleh faktor pathogen dan non pathogen. Ikan sakit akibat pathogen sering terjadi karena ikan tidak memadai, baik mutu, ukuran, dan jumlahnya. Sedangkan non pathogen disebabkan oleh faktor-faktor kualitas air, seperti (oksigen terlarut, suhu, salinitas, adanya senyawa atau gas  beracun).

Tindakan pencegahan untuk mengurangi terserangnya penyakit pada ikan kerapu antara lain:

  1. Mempertahankan kualitas air tetap baik.
  2. Mengurangi kemungkinan penanganan yang kasar.
  3. Pemberian pakan yang cukup, baik mutu, ukuran maupun jumlahnya.
  4. Mencegah menyebarnya organisme penyebab timbulnya penyakit dari bak pemeliharaan  yang satu ke bak pemeliharaan yang lain.

Penyakit non pathogen yang menyerang induk dan larva kerapu dapat disebabkan oleh perairan budidaya maupun pakan. Penyakit karena lingkungan perairan dapat berupa acidosisgas bubble disease, dan keracunan. Sedangkan untuk pencegahannya dilakukan dengan pemberian vitamin E secara teratur dan senyawa antioksidan metabolik dalam pakan Penyakit karena nutrisi dapat berupa rendahnya kualitas pakan dan defisiensi vitamin E.

penyakit pathogen yang menyerang larva ikan kerapu ialah bakteri (vibrio sp), parasiter (cacing pipih trematoda) dan penyakit viral (viral nervous necrosis virus). Upaya pengendalian penyakit viral hingga saat ini belum dapat ditemukan. Sedangkan upaya pencegahan dilakukan dengan pemelihaaran dan penanganan kualitas air yang baik, serta menjaga sanitasi lingkungan pemeliharaan.

Sumber: https://carbomark.org/

Anda mungkin juga suka...