Pembagian Nilai Ujian Nasional di Sejumlah SMPN Berlangsung Lancar

Pembagian Nilai Ujian Nasional di Sejumlah SMPN Berlangsung Lancar

Pembagian Nilai Ujian Nasional di Sejumlah SMPN Berlangsung Lancar

Pembagian Nilai Ujian Nasional di Sejumlah SMPN Berlangsung Lancar
Pembagian Nilai Ujian Nasional di Sejumlah SMPN Berlangsung Lancar

Pembagian hasil seleksi nilai ujian nasional (NUN) secara online bagi calon Peserta Didik Baru

(PPDB) tingkat SMP Negeri di Kota Bogor, tahun pelajaran 2018/2019, yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, berjalan lancar, kemarin. Walaupun, ada sebagian orangtua yang merasa kecewa dengan pembagian kuota dan sistem PPDB tersebut.

Di SMP Negeri 8 di Jalan Ahamad Yani, misalnya, sebelum waktunya, lokasi sekolah tersebut sudah mulai dipadati oleh para orangtua calon siswa yang hendak mengambil berkas hasil seleksi, baik yang lolos maupun yang tidak diterima.

Seperti yang dilakukan salah satu orangtua siswa yang hendak mengambil berkas hasil seleksi,

Linda (37), warga Jembatan Pari, Kabupaten Bogor. Ia mengaku, selama proses pendaftaran hingga seleksi sempat merasa tegang dan khawatir anaknya tidak lolos seleksi.

“Tadinya saya merasa was-was, anak saya tidak akan diterima. Karena, berasal dari luar Kota Bogor. Tapi, karena saya yakin dengan bermodalkan nilai ujian nasional (NUN) 247 lebih dengan kuota 10 persen, anak saya diterima, walaupun pada hari terakhir pendaftaran sempet tegang,” ujarnya, saat ditemui Metropolitan, usai mengambil pengumuman di SMP Negeri 8, kemarin.

Lain halnya dengan salah seorang orangtua calon siswa, Mama Hazria, warga Cibuluh,

Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Ia menceritakan anaknya tidak lolos pada pilihan pertamanya, yakni SMPN 15 Kota Bogor, namun lolos dipilihan keduanya, yaitu di SMPN 19 Kota Bogor. “Alhamdulillah walaupun keterimanya di SMPN 19, tidak jadi masalah. Karena rumahnya masih deket ke SMPN 19, yaitu sekitar 1,5 kilometer jarak dari rumah ke sekolahnya,” ujarnya.

Dia juga mengaku tidak kecewa. Karena anaknya tidak lolos ke SMPN 15. Ia sudah mengetahui bahwa itu merupakan keputusan sistem yang memprosesnya. “Yang penting, anak saya keterima, walaupun jatuh di pilihan kedua. Bagi saya, sekolah negeri itu sama. Karena, kurikulum yang dipakai juga sama. Tinggal tergantung anaknya sendiri, mampu gak ia menerima pelajaran yang diajarkan oleh gurunya,” pungkas.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/oOK0/history-of-eid-al-fitr