Pendidikan yang Berkembang Pada Masa Kolonial

Pendidikan yang Berkembang Pada Masa Kolonial

Pendidikan yang Berkembang Pada Masa Kolonial

Pendidikan yang Berkembang Pada Masa Kolonial
Pendidikan yang Berkembang Pada Masa Kolonial

Munculnya sistem pendidikan kolonial saat itu tidaklah berbanding lurus dengan kepentingan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Orientasi hasil pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga bagi Hindia Belanda.

Setelah dilaksanakan politik etis, banyak forum pendidikan mulai berdiri. Namun, ada beberapa kendala masuk sekolah, menyerupai berikut.

1) Adanya perbedaan warna kulit (color line division).

2) Sistem pendidikan yang dikembangkan diadaptasi dengan status sosial masyarakat (Eropa, Timur Asing, atau bumi putera).

3) Bagi kelompok bumi putera masih dibedakan oleh status keturunan (bangsawan, priyayi, rakyat jelata).

Pendidikan kolonial pada awal masa ke-20 tumbuh cukup banyak terdiri atas beberapa tingkatan berikut.

1) Pendidikan Dasar

a) ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool), untuk keturunan Indonesia orisinil golongan atas. Merupakan sekolah kelas satu.

b) Sekolah Kelas dua, untuk golongan Indonesia orisinil kelas bawah. (https://blog.fe-saburai.ac.id/pengertian-seni-rupa-murni-jenis-gambar-dan-10-contohnya/)

2) Pendidikan Tingkat Menengah

a) HBS (Hogere Burger School) , MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs) dan AMS (Algemene Middelbare school).

b) Sekolah Kejuruan, menyerupai Kweekschoolen (guru pribumi) dan Normaal School.

3) Pendidikan Tinggi

a) Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Ondewijs Nederlandsch Indie).

b) Sekolah Tinggi Hukum (Rechtschool).

c) Sekolah Tinggi Kedokteran, berkembang semenjak dari nama Sekolah Dokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geeneeskundige Hoogeschool).

d) Sekolah training untuk kepala atau pejabat pribumi, Hoofdenscholen, OSVIA (Opleidingsscholen voor Inlansche Ambtenaren)