Pengukuran Intellectual Capital

Pengukuran Intellectual Capital

Pengukuran Intellectual Capital

Pengukuran Intellectual Capital

Metode VAIC “Value Added Intellectual Coefficient” didesain untuk menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud “tangible asset” dan aset tidak berwujud “intangible assets” yang dimiliki perusahaan. VAIC merupakan instrument untuk mengukur kinerja intellectual capital perusahaan. Metode ini untuk mengukur seberapa dan bagaimana efisiensi intellectual capital dan capital employed dalam menciptakan nilai berdasarkan pada hubungan tiga komponen utama yaitu 1. Human capital, 2. Capital employed, 3. Structural capital.


Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk menciptakan value added “VA”. Value added ialah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai “value creation”. VA dihitung sebagai selisih antara ouput dan input, Output “OUT” merepresentasikan revenue dan mencakup seluruh produk dan jasa yang dijual di pasar, sedangkan input “IN” mencakup seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh revenue.


Hal penting dalam model ini ialah bahwa beban karyawan “labour expense” tidak termasuk dalam IN. Karena peran aktifnya dalam proses value creation, intellectual potential “yang direpresentasikan dengan labour expense” tidak dihitung sebagai biaya “cost” dan tidak masuk dalam komponen IN. Karena itu, aspek kunci dalam model Pulic adalah memperlakukan tenaga kerja sebagai entitas penciptaan nilai “value creating entity” “Ulum, 2013:192”.

Proses value creation dipengaruhi oleh efisiensi dari Human Capital “HC”, Capital Employed “CE” dan Structural Capital “SC”:


  • Value Added Of Capital Employed “VACA”

Value Added of Capital Employed “VACA” ialah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital. Pulic “1998” mengasumsikan bahwa jika i unit dari CE “Capital Employed” menghasilkan return yang lebih besar dari pada perusahaan yang lain, maka berarti perusahaan tersebut lebih baik dalam memanfaatkan CE-nya. Dengan demikian, pemanfaatan “Intellectual Capital” IC yang lebih baik merupakan bagian dari “Intellectual Capital” IC perusahaan.


  • Value Added Human Capital “VAHU”

Value Added Human Capital “VAHU” menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan antara VA dengan HC mengindikasikan kemampuan HC untuk menciptakan nilai di dalam perusahaan.


  • Structural Capital Value Added “STVA”

Structural Capital Value Added “STVA” menunjukkan kontribusi structural capital “SC” dalam penciptaan nilai. STVA mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai. SC bukanlah ukuran yang idependen sebagaimana HC dalam proses penciptaan nilai. Artinya semakin besar, kontribusi HC dalam value creation, maka akan semakin kecil kontribusi SC dalam hal tersebut. Lebih lanjut Pulic menyatakan bahwa SC ialah VA dikurangi HC.


Para praktisi dan peneliti menyatakan bahwa Intellectual Capital terdiri dari tiga elemen utama (Stewart, 1998; Sveiby, 1997; Saint-Onge, 1996; Bontis, 2000 dalam Sawarjuwono 2003) yaitu :


  • Human Capital (modal manusia)

Human Capital merupakan lifeblood dalam Intellectual Capital. Disinilah sumber innovation dan improvement,tetapi merupakan komponen yang sulit untuk diukur. Human capital juga merupakan tempat bersumbernya pengetahuan yang sangat berguna, keterampilan, dan kompetensi dalam suatu organisasi atau perusahaan.


Human capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut. Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. (Brinker, 2000) memberikan beberapa karakteristik dasar yang dapat diukur dari modal ini, yaitu training programs, credential, experience, competence, recruitment, mentoring, learning programs, individual potential and personality.


  • Structural Capital atau Organizational Capital (modal organisasi)

Structural Capital merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya: sistem operasional perusahaan, proses manufacturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan. Seorang individu dapat memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, tetapi jika organisasi memiliki sistem dan  prosedur yang buruk maka Intellectual Capital tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.


  • Relational Capital

Elemen ini merupakan komponen Intellectual Capital yang memberikan nilai secara nyata. Relational Capital merupakan hubungan yang harmonis/association network yang dimiliki oleh perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari para pemasok yang andal dan berkualitas, berasal dari pelanggan yang loyal dan merasa puas akan pelayanan perusahaan yang bersangkutan, berasal dari hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar. Relational Capital dapat muncul dari berbagai bagian diluar lingkungan perusahaan yang dapat menambah nilai bagi perusahaan tersebut.


Sumber: https://priceofcialisrnx.com/2020/04/puppet-soccer-champions-apk/

Anda mungkin juga suka...