Penjelasan dari Kemendikbud soal Keberanian Nadiem Makarim Mengganti UN

Penjelasan dari Kemendikbud soal Keberanian Nadiem Makarim Mengganti UN

Penjelasan dari Kemendikbud soal Keberanian Nadiem Makarim Mengganti UN

Penjelasan dari Kemendikbud soal Keberanian Nadiem Makarim Mengganti UN
Penjelasan dari Kemendikbud soal Keberanian Nadiem Makarim Mengganti UN

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional

(UN) dengan Assesmen Kompetisi Minimum dan Survei Karakter pada 2021. Ini merupakan salah satu bagian dari konsep Merdeka Belajar yang digagas Nadiem.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ade Erlangga Masdiana menjelaskan, selama ini telah banyak data maupun masukan dari berbagai pihak sebelum Nadiem memutuskan gagasan tersebut.

Ia menyebut masukan itu antara lain dari Persatuan Guru Republik Indonesia

(PGRI), asosiasi guru lainnya, lembaga pendidikan, direktur jenderal dan eselon II di Kemendikbud, serta pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, kata dia, masukan dari evaluasi terhadap Survei Program for International Student Assessment (PISA).
Baca Juga:

Menteri Malaysia Puji Kebijakan Nadiem Makarim soal UN

“Memang ini adalah kebijakan yang menjadi janji (Nadiem) selama tiga bulan, tetapi sebelum tiga bulan Pak Menteri sudah mengeluarkan kebijakan,” kata Airlangga dalam diskusi “Merdeka Belajar, Merdeka UN di Ibis Tamarin, Jakarta, Sabtu (14/12).

Dia menegaskan bahwa gagasan ini penting kaeena concern Nadiem dan Kemendikbud

adalah ingin meniptakan suasana happy belajar di sekolah. “Makanya tagline-nya Merdeka Belajar. Bahwa pendidikan harus menciptakan suasana yang membahagiakan orang tua, guru, peserta didik dan semua,” ujarnya.

Menurut Erlangga, selama ini banyak orang yang komplain terhadap suasana pendidikan. Contohnya, ujar dia, anak dipaksa mencapai skor tertentu. Akhirnya yang berjamuran adalah lembaga bimbingan belajar.
Baca Juga:

Baca! Ini Penjelasan Lengkap Nadiem Makarim soal Kontroversi Penghapusan UN

“Lalu siapa yang lebih untung? Bukan siswa, tetapi berbagai macam pihak yang melihat potensi ini. Orang tua stres, anak stres, guru juga ditekan bagaimana anak itu bisa berprestasi,” paparnya.

 

Sumber :

https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/12/BridgeConstructorPortal.html

Anda mungkin juga suka...