Penjelasan Mengenai Malam Lailatul Qadar

Penjelasan Mengenai Malam Lailatul Qadar

Penjelasan Mengenai Malam Lailatul Qadar

Penjelasan Mengenai Malam Lailatul Qadar
Penjelasan Mengenai Malam Lailatul Qadar

Pengertian Lailatul Qadar

Kata Lailatul Qadar tersusun dari dua kata, lailah (lailatun) dan al-Qadar. Lailah artinya malam, sedangkan al-Qadar artinya asy-syaraf wal-izham (kemuliaan dan kebesaran).

Maka Lailatul Qadar artinya malam kemulian atau kebesaran yang kemuliaan dan kebesarannya tidak ada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran dan menjadi titik tolak segala kemuliaan yang dapat diraih.

Ada pula pendapat lain dalam kitab Tafsir al-Munir disebutkan, “Makna al-Qadar adalah at-taqdir (penetapan). Dan Lailatul Qadar diberi nama demikian karena Allah Ta`ala menakdirkan pada malam itu apa-apa yang dikehendaki-Nya berupa penetapan-Nya sampai tahun mendatang mengenai urusan maut, ajal, rizki, dan sebagainya.”

Tapi bukankah ditakdirkannya segala perkara itu pada malam Nish- fu Sya’ban? Jika timbul pertanyaan demikian, penjelasannya tertera dalam kitab Tafsir Ash-Shawi Juz IV halaman 320, “Maka jika engkau berkata ‘Sesungguhnya ditakdirkannya segala perkara itu pada malam Nishfu Sya’ban’, jawabannya, ‘Permulaan takdir adalah malam Nishfu Sya’ban, dan diserahkannya kepada para malaikat adalah pada Lailatul Qadar”.

Ada pula yang mengartikan bahwa al-Qadar adalah “sempit”. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surah Al-Qadar, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”

Ketiga arti tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar semuanya. Karena malam tersebut adalah malam mulia, yang bila dapat diraih ia menetapkan masa depan manusia, dan pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan.

Pada Malam Keberapa Ia Hadir?

Mengenai pada malam keberapa kemunculannya di bulan Ramadhan, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, ia dapat muncul pada malam apa saja (keberapa saja). Ada pula yang berpendapat, Lailatul Qadar itu berpindah-pindah pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan. Pendapat lain mengatakan, ia berpindah-pindah pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari yang terakhir itu.

Ada juga yang mengatakan, di malam kedua puluh satu. Ada yang bilang, di malam kedua puluh tiga. Ulama lain mengatakan, di malam kedua puluh lima. Sebagian yang lain mengatakan, di malam kedua puluh tujuh. Dan ada pula yang berpendapat bahwa ia muncul di malam kedua puluh sembilan.

Masing-masing ulama memiliki dasar atas pendapatnya itu. Salah satunya adalah pen¬dapat yang mengatakan bahwa ia muncul di malam kedua puluh tujuh. Beberapa hadits dan isyarat menguatkan pendapat ini. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa berusaha menuntutnya, hendaklah ia menuntutnya pada malam kedua puluh tujuh’.” (HR Ahmad).

Apakah, bila Lailatul Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu, meskipun tidak mengisinya dengan ibadah? Menurut ke terangan-keterangan yang ada, malam ini tidak akan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh malam ini tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja.

Tanda Tanda Malam Lailatul Qadar

Mengenai tanda-tanda Lailatul Qadar, para ulama berbeda pendapat. Di antaranya, orang yang mendapati malam Lailatul Qadar melihat bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit bersujud kepada Allah. Ada juga yang mengatakan, tandanya adalah alam terang benderang walaupun di tempat-tempat yang gelap. Ada lagi yang mengatakan, orang yang mendapatkan malam itu mendengar salam para malaikat dan tutur katanya.

Sedangkan keterangan yang disebutkan dalam hadits adalah, pagi harinya matahari terbit dalam bentuk yang sangat putih bersih bagai bulan purnama, tidak memancarkan sinar yang keras, melainkan lembut saja. Siang harinya tidak terasa panas, padahal matahari sangat cerah, terang benderang. Udaranya sangat nyaman, tidak panas dan tidak pula dingin.

Tidak Mesti Mengetahuinya

Untuk mendapatkan keutamaan malam ini dan memperoleh pahali seribu bulan itu, tidak disyaratkan kita mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, melainkan cukup adanya mushadafah (yakni berkebetulan atau bertepatan). Artinya, jika amal-amal ibadah yang kita lakukan ternyata bertepatan dengan malam itu, berarti kita telah mendapatkannya, meskipun kita tahu bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar. Memang terkadang sebagian orang shalih “dibukakan” mengenai malam tersebut, tetapi itu tidak menjadi syarat untuk memperoleh pahala seribu bulan.

Untuk menghasilkan terbukanya malam yang diberkahi ini, Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin juz I halaman 242 mengatakan, “Dan Lailatul Qadar itu sebutan untuk suatu malam yang terbuka dengan nyata padanya sesuatu dari Alam Malakut, dan ia itulah yang dimaksud dalam firman Allah, ‘Sesungguhnya Aku turunkan dia pada malam kemuliaan’. Barang siapa meletakkan di antara hati dan dadanya kantung makanan (artinya memenuhi perutnya), ia terdinding darinya. Dan orang yang mengosongkan perut besarnya pun belum mencukupi baginya untuk mengangkat hijab sebelum dikosongkannya gerak hatinya dari segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla.”

Dalam rangka menyambut kehadiran Lailatul Qadar itu, yang Nabi SAW ajarkan kepada umatnya antara lain adalah melakukan i’tikaf di masjid. Walaupun dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama saja (bahkan ada yang mengatakan, walaupun hanya sesaat selama dibarengi niat yang suci), beliau selalu melakukannya pada sepuluh hari terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Lailatul Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi SAW pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah ar-Ruh (Malaikat Jibril) membawa ajaran dan bimbingan kepada beliau, sehingga tejadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau, bahkan perjalanan hidup umat manusia. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan kita, marilah kita manfaatkan kehadiran malam mulia ini sebaik-baiknya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/