Perkembangan Hadits dan Tokohnya

Perkembangan Hadits dan Tokohnya

Perkembangan Hadits dan Tokohnya

Perkembangan Hadits dan Tokohnya
Perkembangan Hadits dan Tokohnya

Perkembangan Hadits Abad III H

Pada periode ini pentadwidan hadits mulai mendapat perhatian dari para ulama’ namun pada situasi lain menghadapi kondisi yang sangat memperihatinkan, terjadinya pertentangan ide antara muhadditsin dengan muttakalimin akibatnya, muncullah kelompok-kelompok yang bermaksud untuk memalsukan hadits.[15]
Khalifah pada masa dinasti Abbasiyah turut serta meredam pertentangan antara kedua golongan tersebut dan menghancurkan kelompok zindiq yang berusaha memfitnah golongan Muhaditsin. Pada situasi yang demikian khalifah Al-Makmun berusaha mempertemukan kedua kubu untuk berdiskusi. Namun sikap tersebut dirasa oleh Muhaditsin tidak objektif karena khalifah nampak memihak ulama’ Muttakalimin dengan membuat tekanan kepada ulama Muhadditsin serta menuduh ulama Muhadditsin membuat pemalsuan Hadits.

Sebagai jawaban terhadap pemalsuan hadits ataupun tuduhan bahwa ahli hadits telah menyebarkan riwayat yang bertentangan muskil dan penuh khurafat maka langkah yang diambil ahli hadits adalah dengan menginventarisasi kritik yang dilontarkan oleh kelompok muttakalimin,menghimpun hadits dengan sistem musnad yakni, pengelompokan yang didasarkan pada nama sahabat tidak membedakan apakah riwayatnya syah,serta menyusun riwayat dengan basis fiqih yaitu pengelompokan berdasarkan bab kitab fiqih.Metode yang demikian ini dapat memberi kemudahan bagi para pengkaji hadits, sehingga muncullah literatur hadits yang berhasil disusun yang sampai saat ini dapat ditemukan seperti karyanya Imam Ahmad (al musnad) al jami’, al shohih karya Imam Al Bukhori,al sunan karya Imam Abu Dawud.

PERKEMBANGAN HADIST PADA ABAD KE IV H

Pada abad IV H keadaan politik umat islam sangat jauh berbeda dengan abad sebelumnya.pemerintahan islam telah terpecah menjadi kerajaan kecil,disamping terjadi penyerangan dan menjatuhkan satu dengan yang lainnya.
Aktivitas para ulama’ juga sudah tidak lagi membuat kerangka dasar pembentukan dasar-dasar periwayatan hadist nabi.mereka hanya menyatukan atau memodifikasikan karya-karya yang disusun oleh ulama’ hadist sebelumnya,dengan mendasarkan kepada dasar-dasar atau metode kritik hadist yang telah dirumuskan.

Tokoh Paling Mahsyur

Diantara para tokoh abad ini yang paling masyhur adalah:
Imam Sulayman Ibn Tabrani (W. 360 H), pewnyusun tiga kitab al-mu’jam al-hadist, yaitu: al-mu’jam al-kabir,al-mu’jam al-awsat,dan al-mu’jam al-saghir.
Al-Daruqutni (W. 385 H), penyusun kitab sunan dar al-qutni.
Ibn Hibban al-Basti (W. 354 H), penyusun kitab sahih ibn hibban dan al-sunan.
Ibn Huzaymah (W. 311 H) dan imam al-Hakim al-Naysaburi (W. 405 H), penyusun kitab al-Mustadrak
Pada abad ke-4 H, para ulama’ hadist tidak banyak lagi mengadakan perlawatan ke daerah-daerah sebagaimana yang biasa dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Maka, di penghujung tahun 300 H ini, mereka hanya memelihara kitab-kitab hadist yang telah ada dan mengembangkannya dengan mempelajari, menghafal, memeriksa, dan menyelidiki sanad-sanadnya serta menyusun kitab-kitab baru dengan tujuan untuk memelihara, menertibkan dan menghimpun segala sanad dan matan yang saling berhubungan dan telah termuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang telah ada.

Pada awal abad ke-4 H muncullah gerakan kritik hadist sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah,yaitu dengan diterapkan berbagai persyaratan yang diperlukan pada perawi hingga sumber-sumbernya, baik dalam bentuk periwayatan maupun penulisan. Gerakan ini dimaksudkan untuk mengkaji nilai-nilai otentisitas sumber periwayatan, namun kerancauan redaksional yang mempengaruhi tata penilaian suatu hadist. Sehingga dapat ditemukan mana hadist yang otitesitasnya dan dapat diterima, dengan yang tidak otentis dan harus ditolak. Usaha gerakan ini semakin disistematikan dan menjadi suatu kompilasi untuk melahirkan suatu disiplin ilmiah.

Ulama Pertama Yang Merintis Kajian Hadits

Ulama pertama yang merintis kajian Hadits dan kaidah-kaidah kritik secara ilmiah ialah:
1) Ali Ibn Al-Madini,karya yang dihasilkan masih berbentuk ar-risalah
2) Abu Muhammad al-Rahmaramzi,,karyanya sudah tersusun secara sistematis
3) Al-Hakim Abu Abdillah al-Naysaburi dalam karyanya Ma’rifah Al-‘Ulum Al-Hadits
4) Na’im Al-Isbahani,yang berusaha meninjau karaya-karya Al-Hakim
5) Al-Qadi’iyyad,yang menulis kitab Al-‘Ilma
6) Imam Taqiyuddin Abu ‘Amr Usman Ibn Salah Al-Damasqi dalam kitabnya yang terkenal dengan judul Muqaddamh Ibn Al-Salah.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/