Prinsip Prinsip Belajar

Prinsip Prinsip Belajar

Prinsip Prinsip Belajar

Prinsip Prinsip Belajar
Prinsip Prinsip Belajar

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah suatu aktivitas atau suatu proses mebgajar dan belajar. Aktivitas ini merupakan proses komunikasi dua arah, antara pihak guru dan peserta didik. Undang undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan: “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Pembelajaran adalam membelajarkan peserta didik dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran dapat disebut berhasil bila dapat mengubah peserta didik dalam arti luas serta dapat menumbuhkembangkan kesadaran peserta didik untuk belajar sehingga pengalaman yang diperoleh peserta didik selama ia terlibat dalam proses pembelajaran itu dapat dirasakan manfaatnya secara langsung. Hal itu dapat dicapai manakala kesiapan guru untuk dapat mengerti, memahami, dan menghayati berbagai hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran, termasuk di dalamnya prinsip-prinsip pembelajaran.
Makalah ini akan membahas tentang prinsip-prinsip pembelajaran yang sangat diperlukan oleh para guru dan peserta didik dalam rangka kelangsungan pembelajaran yang efektif dan efesien.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan penulis paparkan, diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan prinsip pembelajaran?
2. Apa saja yang termasuk ke dalam prinsip pembelajaran?
3. Bagaimana implikasi prinsip belajar ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pengertian prinsip pembelajaran
2. Untuk mengetahui yang termasuk ke dalam prinsip pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip-Prinsip Pembelajaran

Pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip pembelajaran dapat memberikan kemudahan bagi guru dalam memilih tindakan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran, guru memilliki sikap dan mampu mengembangkannya dalam rangka peningkatan kualitas belajar siswa.
Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan atau penguatan, serta perbedaan indivual.
Ada beberapa prinsip yang perlu dikuasai dan dikembangkan oleh guru dalam upaya mengoptimalkan kegiatan pembelajaran, yaitu :

1. Prinsip Perhatian dan Motivasi

Perhatian dalam proses pembelajaran memilik peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Untuk memunculkan perhatian siswa maka perlu kiranya didukung sebuah rancangan bagaimana menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Mengingat begitu pentingnya faktor perhatian, maka dalam proses pembelajaran perhatian berfungsi sebagai modal awal yang harus dikembangkan secara optimal untuk memperolehproses dan hasil yang maksimal.
Menurut Gage dan Berliner, berdasarkan kajian teori belajar pengolahan informasi mengungkapkan bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin akan terjadi belajar (1984).
Perhatian adalah memusatkan pikiran dan perasaan emosional secara fisik dan psikis terhadap sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya. Perhatian dapat muncul secara spontan, dapat juga muncul karena direncanakan. Dalam proses pembelajaran perhatian akan muncul dari diri siswa apabila pelajaran yang diberikan merupakan bahan pelajaran yang menarik dan dibutuhkan oleh siswa. Namun jika perhatian alami itu tidak muncul maka tugas guru untuk memangkitkan perhatian siswa terhadap pelajaran. Bentuk perhatian direfleksikan dengan cara melihat secara penuh perhatian, meraba, menganalisis, dan jugaaktivitas-aktivitas lain dilakukan melalui kegiatan fisik dan psikis.
Seseorang yang memiliki minat terhadap materi pelajaran tertentu, biasanya akan lebih intensif memperhatikan dan selanjutnya timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi tersebut. Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran.
Motivasi adalah dorongan atau kekuatan yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan seseuatu. Menurut H.L. Petri “motivation is the concept we use when we describe the forces acting on or within an organism to intiate an direct behavior” (1986). Motivasi dapat dijadikan tujuandan alat dalam pembelajaran, hal ini berdasarkan bahwa perhatian dan motivasi seseorang tidak selamanya stabil, intensitasnya bias tinggi, sedang bahkan umum, tergantung pada aspek yang mempengaruhinya.
Motivasi berhubungan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata pelajaran cenderung lebih memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar. Motivasi dapat bersifat internal, artinya muncul dari dalam diri sendiirii tanpa ada intervensi dari yang lain, misalnya harapan, cita-cita, minat, aspek lain yang terdapat dalam diri sendiri. Motivasi juga dapat bersifat eksternal, yaitu stimulus yang muncul dari luar dirinya, misalnya kondisi lingkungan kelas, sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward), pujian, bahkan karena rasa takut oleh hukuman merupakan salah satu faktor munculnya motivasi.
Motivasi juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu motif intrinsic dan motif ekstrinsik. Setiap motif baik itu intrinsik maupun ekstrinsik dapat bersifat internal maupun eksternal, seabiknya motif tersebut juga dapat berubah dari eksternal menjadi internal atau sebaliknya (transformasi motif), seebagai contoh seorang anak yang belajar di bidang pendidikan karena menuruti keinginan orang tua karena anaknya ingin menjadi guru, mula-mula motifnya ekstrinsik, tetapi setelah ia menyukai pelajaran-pelajarannya yang dia masuki dan senang belajar menjadi guru, maka motifnya berubah menjadi intrinsik.

Motivasi dalam belajar merupakan hal yag sangat penting juga dalam pelaksanaan proses pembelajaran, hal ini didasari olehbeberapa hal, yaitu :
a. Siswa harus senantiasa didorong untuk bekerjasama dan belajar.
b. Siswa harus senantiasadidorong untuk bekerja dan berusaha sesuaidengan tuntutan belajar.
c. Motivasi merupakan hal yang penting dalam memlihara dan mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan.
Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian tujuan. Perilaku belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah penca paian tujuan dan hasil belajar.

2. Prinsip Keaktifan

Kecenderungan psikologi saat ini menyatakan bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, memiliki kemauan dan keinginan. Belajar pada hakekatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran. Seseorang yang belajar tidak bias dipaksakan oleh orang lain, belajar hanya akanmungkin terjadi apabila anak aktifmengalami sendiri.
John Dewy menyatakan bahwa “belajar adalah menyangkut apa yangharus dikerjakan siswa oleh dirinya sendiri, maka inisiatifbelajar harus muncul dari dirinya”. Dalam proses pembelajaran siswa harus aktif belajar dan guru hanyalah membimbing dan mengarahkan. Teori kognitif menyatakan bahwa velajar menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa tidak sekedar merespn informasi, namun jiwa mengolah dalam dan melakukan transformasi yang diterima. (Gage and Berliner, 1984:267).
Berdasarkan kajian teori tersebut, maka siswa sebagai subjek belajar memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan, menacari, mengolah informasi, menganalisis, mengidentifikasi,memecahkan, menyimpulkan dan melakukan transformasi (transfer of learning) ke dalam kehidupan yang lebih luas. Potensi yang dimiliki setiap individu sbaiknya dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, namun yang menjadi persoalan adalah apakah setuap ptensi tersebut sudah terakomodasi dalam suasana pembelajaran yang lebih kondusif? Sehubungan dengan prinsip keaktifan ini, Thorndike dengan “Law of Exercise” menyatakan bahwa belajar perlu adanya latihan-latihan, dan Mc Keachie tentang individu merupakan manusia yang aktif dan selalu ingin tahu, dapat menjadimasukan bahwa dalam proses pembelajaran guru dapat menggali dan mengembangkan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang berpusat pada siswa.

3. Prinsip Keterlibatan Langsung /Berpengalaman

Prinsip ini berhubungan dengan prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya, hal ini sejalan dengan pernyataan I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand. Pendekatan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secra langsung akan menghasilkan pembelajaran lebih efektif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Terkait dengan konsep aktifitas, bahwa setiap kegiatan belajar harus melibatkan diri (setiap individu) terjun mengalami.
Edgar Dale melalui penggolongan pengalaman belajarnya atau yang lebih dikenal dengan kerucut pengalaman menyatakan bahwa “belajar yang paling baik adalah melalui pengalaman langsung”.
Idealnya setiap belajar harus terjadi suatu proses intenalisasi bagi pihak yang belajar, sebab belajar bukan hanya sekedar proses menghapal sejumlah konsep, prinsip atau fakta yang siap untuk diingat. Pendekatan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara langsung aktif melakukan perbuatan belajar hasilnya akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang hanya sekedar menuangkan pengetahuan pengetahuan informasi.

4. Prinsip Pengulangan
Teori yang dapat dijadikan sebagai petunjuk pentingnya prinsip pengulangaan dalam belajar, antara lain bias di cermati dari dalil-dalil belajar yang dikemukakan oleh Edward L. Thorndike (1974-1949). Kesimpulan penelitiannya telah memunculkan tiga dalil belajar, yaitu “Law of effect, law of exercise, and law of readiness”. Teori lain yang dianggap memiliki kaitan erat dengan prinsip pengulangan adalah yang dikemukakan oleh Psikologi Daya.
Menurut teori Daya bahwa manusia memiliki sejumlah daya seperti mengamati, menanggapi, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir dan lain sebaginya. Oleh karena itu menurut teri ini, belajar adalah melebihi daya-daya dengan pengulangan dimaksudkan agar setiap daya yang dimiliki manusia dapat terarah sehingga menjadi lebih peka dan berkembang.

5. Prinsip Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dan Kutt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam setiap situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang harus dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa dihadapkan kepada sejumlah hambatan/tantangan, yaitu mempelajari materi/bahan belajar, maka timbulah motif untuk mengatasi hambatan tersebut dengan mempelajari bahan belajar.
Implikasi lain dari adanya bahan belajar yang dikemas dalam suatu kondisi yang menantang, seperti yang mengandung masalah yang perlu dipecahkan, siswa akan tertantang untuk mempelajarinya. Dengan kata lain pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi tersebut.
Bila dilihat dari segi penggunaan metode pembelajaran, seperti metode eksperimen, inkuir, diskoveri, pemecahan masalah, diskusi dan yang sejenisnya. Maka, metode-metode tersebut memiliki karakteristik yang menantang yang dapat menimbulkan semangat belajar tinggi. Begitu pula penguatan yang diberikan terhadap setiap hasil belajar siswa apakah penguatan positif atau negative akan menantang siswa dan dapat menimbulkan motif belajar untuk memperoleh ganjaran atau menghindari dari hukuman yang tidak diharapkan.

6. Prinsip Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Pada teori Conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya sedangkan pada Operant Conditioning yang diperkuat adalah responnya.
Kunci dari teori ini adalah hukum “Law of effect” dari Thorndike. Menurutnya, siswa akan beljar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.apalagi hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya.
Namun, dorongan belajar itu menurut B.F Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan, atau dengan kata lain penguatan positif maupun negative dapat memperkuat belajar. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui pengamatan melalui metode-metode pembelajaran yang menantang, seperti Tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan yang sejenisnya akan membuat siswa terdorong untuk belajarlebih giat dan bersemangat.

7. Prinsip Perbedaaan Individual
Prinsip perbedaan individual dalam belajar, yaitu bahwa proses belajar yang terjadi pada setiap individu berbeda satu dengan yang lain baik secara fisik maupun psikis, untuk itu dalam proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap siswa harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Untuk dpat memberikan bantuan belajar terhadap siswa, maka guru harus dapat memahami dengan benarciri-ciri pada siswanya tersebut. Baik dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan bimbingan belajar terhadap siswa.

Baca juga: