RUKUN DAN SYARAT TALAK

RUKUN DAN SYARAT TALAK

RUKUN DAN SYARAT TALAK

RUKUN DAN SYARAT TALAK
RUKUN DAN SYARAT TALAK

Rukun talak adalah

unsur pokok yang harus ada dalam talak dan terwujudnya talak bergantung ada dan kelengkapannya unsur-unsur tersebut.

Rukun Talak

Adapun rukun talak ada 4 (empat) yaitu :

1. Suami

Suami adalah yang memilki hak talak dan yang berhak menjatuhkannya. Selain suami tidak berhak menjatuhkannya, oleh karena itu talak bersifat menghilangkan ikatan perkawinan, maka talak tidak mungkin terwujud kecuali setelah nyata adanya akad perkawinan yang sah.

Syaratnya

Untuk sahnya talak suami memilii 3 (tiga) syarat yaitu :
a. berakal,. Suami yang gila tidak sah menjatuhkan talak. Yang dimaksud dengan gila dalam hal ini adalah hilang ingatan atau rusak akal karena sakit, pitam, hilang akal karena sakit panas, sakit ingatan karena rusak akal sarafnya.
b. baligh. Harus sudah dewasa
c. atas kemauan sendiri. Yang dimaksud ialah adanya kehendak pada diri sendiri untuk menjatuhkan talak itu dan dijatuhkan atas pilihan sendiri bukan paksaan dari orang lain. Kehendak dan kerelaan melakukan perbuatan menjadi dasar taklif dan pertanggung jawaban. Oleh karena itu orang yang dipaksa melakukan sesuatu (dalam hal ini menjatuhkan talak) tidak dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya

2. Isteri

Masing-masing suami hanya berhak menjatuhkan talak terhadap isterinya sendiri. Tidak dipandang jatuh talak yang diucapkan terhadap isteri orang lain.

Syaratnya

Untuk sahnya talak, isteri memiliki syarat sebagai berikut :
a. isteri itu masih tetap berada dalam perlindungan suami. Isteri yang menjalani masa iddah talak raj’i dari suaminya oleh hukum Islam dipandang masih berada dalam perlindungan kekuasaan suami. Karenanya bila dalam hal ini masa itu suami menjatuhkan talak lagi, dipandang jatuh talaknya sehingga menambah jumlah talak yang dijatuhkan dan mengurangi hak talak yang dimiliki suami. Dalam hal talak bain, bekas suami tidak berhak menjatuhkan talak lagi terhadap bekas isterinya meski dalam masa iddahnya, karena dengan talak bain itu bekas isteri tidak lagi berada dalam perlindungan kekuasaan bekas suami.
b. kedudukan isteri yang ditalak itu harus berdasarkan atas akad perkawinan yang sah. Jika ia menjadi isteri dengan akad nikah yang batil, seperti akad nikah terhadap wanita dalam masa iddahnya atau akad nikah dengan perempuan saudara isterinya (memadu antar dua perempuan bersaudara), atau akad nikah dengan anak tirinya padahal suami pernah menggauli ibu anak tirinya dan anak tiri itu berada dalam pemeliharaannya, maka talak yang demikian dipandang tidak ada.
c. sighat talak. Ialah kata-kata yang diucapkan oleh suami terhadap isterinya yang menunjukan talak, baik itu sharih maupun kinayah, baik berupa ucapan maupun tulisan, isyarat bagi suami yang tuna wicara atau pun dengan suruhan dia. Talak tidak dipandang jatuh jika perbuatan suami terhadap isteri menunjukan kemarahannya, semisal suami memarahi isteri, memukulnya, mengantarnya ke rumah orang tuanya, menyerahkan barang-barangnya tanpa disertai penyertaan talak, maka yang demikian itu bukan talak. Demikian pula niat talak atau masih berada dalam pikiran dan angan-angan, tidak diucapkan tidak dipandang sebagai talak. Pembicaraan suami tentang talak tetapi tidak ditujukan terhadap isterinya maka itupun bukan talak.
d. qashdu (sengaja) artinya bahwa dengan ucapan talak itu memang dimaksudkan oleh yang mengucapkannya untuk talak, bukan maksud lain. Oleh karena itu salah ucap yang tidak dimaksud untuk talak dipandang tidak jatuh talak, seperti suami memberikan buah salak kepada isterinya. Ia mengucapkan kepada isterinya “ini buah talak untuk mu” maka ucapan tersebut tidak menjatuhkan talak.

Sumber: www.dutadakwah.org

Anda mungkin juga suka...