Saingi Sekolah dan PT Negeri, Rhenald Kasali: Swasta Perlu Dukungan

Gandeng 4 Perguruan Tinggi, PLN Buka Program D4 Ikatan Dinas

Saingi Sekolah dan PT Negeri, Rhenald Kasali: Swasta Perlu Dukungan

Gandeng 4 Perguruan Tinggi, PLN Buka Program D4 Ikatan Dinas
Gandeng 4 Perguruan Tinggi, PLN Buka Program D4 Ikatan Dinas

Laporan Bank Dunia tentang indeks modal insani 2018 menunjukkan baru 68 persen kaum muda di seluruh dunia yang potensinya telah dikembangkan dengan baik. Indonesia memiliki skor 0,53, masih lebih tinggi dari India yaitu 0,44, namun tertinggal dengan Malaysia yang skornya 0,62.

Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof Rhenald Kasali melihat, hal itu menguatkan dugaan bahwa saatnya Indonesia berfokus pada penguatan SDM dengan memberikan dukungan yang lebih besar kepada pihak swasta dan para siswa/mahasiswa.

Dia menyambut baik gagasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan memperkuat SDM ke depan. Hadirnya Kartu Indonesia Pintar, Kartu Kuliah, perlu diimbangi dengan stimulus untuk lebih memajukan swasta.

“Pelibatan swasta, seperti yang dilakukan oleh lembaga-lembaga keagamaan maupun non-keagamaan menjadi penting karena mereka memiliki akses dan aset yang cukup besar,” ujarnya dalam seminar Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia yang digelar Kantor Staf Presiden RI di Surabaya, Senin (25/3).

Mengutip data Kemenristekdikti, Rhenald menyebutkan pada 2017 dari total 6,9 juta mahasiswa, 68 persen atau 4,7 juta kuliah di PT Swasta. “Sehingga peningkatan kualitas pendidikan di PT Swasta sangat penting karena menentukan kualitas mayoritas sarjana di Indonesia,” kata dia.

PT dan sekolah-sekolah swasta tidak pernah membebankan negara dalam soal pembiayaan. Namun belakangan, agak terganggu menyusul kenaikan gaji guru sekolah negeri yang progresif sementara sekolah swasta harus membiayai sendiri.

“Akibatnya sekolah swasta harus meningkatkan pendapatannya

, atau kehilangan guru muda yang bagus-bagus,” tandas Rhenald.

Dia memaparkan bahwa keadaan keuangan banyak sekolah swasta yang melayani masyarakat berpendapatan rendah kini memang agak memperihatinkan. Namun tak sedikit sekolah swasta yang kualitas dan inovasinya melebihi PTN. Tak sedikit juga yang gurunya mempunyai etos kerja melebihi guru negeri dan tak pernah menuntut diangkat sebagai PNS atau mendapat status pegawai tetap.

Bahkan, disiplin sekolah dan kemampuan beradaptasinya tergadap

kebaharuan sudah lama diakui. Lulusan-lulusan sekolah swasta yang lolos di PTN rata-rata memiliki survival rate yang tinggi.

“Oleh karena itu, stimulus negara untuk memperkuat sekolah-sekolah swasta perlu diberikan negara. Apalagi ke depan janji presiden adalah penguatan mutu SDM,” tutur dia.

“Ada baiknya, dukungan beasiswa dari BUMN/swasta bisa menjadi pengurang pajak, seperti pembayaran zakat,” tambahnya.

Rhenald juga menunjukkan, saat ini dunia pendidikan tengah bergulat menghadapi dunia baru yang berbeda dengan referensi akademis kemarin.

“Kalau anak-anak dipertarungkan dengan artificial intellegence

, kita akan lupa menyambut the future of work, yaitu logic berpikir, kreativitas, spirit mencintai lingkungan dan sesama, daya juang, mental petarung, kemampuan bekerja dalam team dan individual, serta kewirausahaan sosial,” paparnya.

Dia mengingatkan, para inovator yang menciptakan petangkat-perangkat software dan smart devices tidak pernah belajar TI di bangku sekolah. “Jadi bukan teknis yang harus dibangun, melainkan kemampuan membaca dan mengeksplorasi,” tegasnya.

Inisiatif-inisiatif baru berupa partisipasi swasta dapat menjawab kebutuhan, salah satunya adalah The Green School di Bali. Sekolah internasional itu membangun kebaruan dan kini banyak diminati siswa asing dengan belajar gamelan dan tarian bali, menanam padi sambil memahami science. Tahun depan, sekolah yang dipimpin orang bali Dr. Tirka ini akan membuka cabang di New Zealand.

“Jadi apa yang dibutuhkan swasta sesungguhnya amat beragam. Ada yang hanya membutuhkan fasilitasi dukungan dan tidak diganggu dengan proses regulasi yang menyulitkan. Namun juga ada yang tentu masih membutuhkan dukungan fasilitas lab, insentif untuk pengembangan, dan tentu saja beasiswa untuk guru,” pungkas Rhenald.

 

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/contoh-wawancara/