Sebab-sebab penghalang kewarisan

Sebab-sebab penghalang kewarisan

Sebab-sebab penghalang kewarisan

Sebab-sebab penghalang kewarisan
Sebab-sebab penghalang kewarisan

Penghalang kewarisan artinya suatu keadaan yang menjadikan tertutupnya peluang seseorang untuk mendapatkan warisan. Adapun orang yang terhalang mendaptkan warisan ini adalah orang yang memenuhi sebab-sebab memperoleh warisan.

a. Perbudakan (hamba sahaya)

Hamba sahaya tidak dapat mewarisi harta peninggalan kerabatnya sebab kalau ia mewarisi berarti harta warisan itu akan diminta oleh majikannya. Padahal majikannya adalah orang lain dari kerabat hamba sahaya yang menerima warisan tersebut.
Para fuqoha juga telah menggariskan bahwa hamba sahaya beserta barang-barang yang dimilikinya berada dibawah kekuasaan majikannya. Oleh karena itu, ia tidak dapat mewarisi harta peningglan kerabatnya agar harta warisan itu tidak jatuh ketangan majikannya.

b. Pembunuhan

Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris, ia tidak boleh mewarisi harta peninggalannya. Dasar hukum yang menetapkan pembunuhan sebagai halangan untuk mewarisi ialah hadits Nabi SAW. Dan ijma’ para sahabat. Hadits Rasulullah SAW: “Barang siapa membunuh seorang korban, ia tidak dapat mempusakainya walaupun si korban itu tidak mempunyai waris selain dia, dan jika si korban itu bapaknya atau anaknya, maka bagi pembunuh tidak berhak menerima harta peninggalannya.” (HR. Ahmad).

Pasal-Pasal

Adapun menurut pasal 838 telah ditetapkan ada orang-orang yang karena perbuatannya, tidak patut menerima warisan. Mereka itu, diantaranya ialah seorang waris yang dengan putusan hakim telah dihukum karena dipersalahkan membunuh atau mencoba membunuh si meninggal. Seorang waris yang telah menggelapkan, memusnahkan atau memalsukan surat wasiat atau dengan memakai kekerasan atau ancaman telah menghalang-halangi si meninggal untuk membuat surat wasiat menurut kehendaknya.

Selanjutnya dalam pasal 912 ditetepkan alasan-alasan yang menurut pasal 838 tersebut diatas, menyebabkan seorang patut menjadi waris, berlaku juga sebgai halangan untuk dapat menerima pemberian-pemberian dalam suatu testament, kecuali dalam pasal 912 tidak disebutkan orang yang telah mencoba membunuh orang yang meninggalkan warisan. Jika si meninggal itu ternyata dalam surat wasiatnya masih juga memberikan warisan pada seorang yang telah berbuat demikian, hal itu dianggap sebagai suatu “pengampunan” terhadap orang itu.

Dalam kompilasi hukum islam diterangkan dalam pasal 173, seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tepat, dihukum karena:
Ø Dipersalahkan karena membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris.
Ø Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan sesuatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

c. Perbedaan agama

Yang dimaksut perbedaan agama adalah perbedaan agama yang menjadi kepercayaan orang yang mewarisi dengan orang yang di warisi. Misalnya, agamanya orang yang mewarisi itu kafir, sedang yang diwarisi beragam islam, maka orang kafir tidak boleh mewarisi harta peninggalan orang islam. Rasulullah SAW. bersabda: “Seorang muslim tidak boleh mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak boleh mewarisi orang muslim.” (HR. Bukhori-Muslim).
Ditetapkan juga dalam kompilasi hukum islam dalam pasal 172, ahli waris dipandang islam apabila diketahui dari kartu identitasnya atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/