Seks dan Anak, Kehidupan Manusia di Masa Depan

Seks dan Anak, Kehidupan Manusia di Masa Depan

Seks dan Anak, Kehidupan Manusia di Masa Depan

Seks dan Anak, Kehidupan Manusia di Masa Depan
Seks dan Anak, Kehidupan Manusia di Masa Depan

Terlalu sering kita mendengar masalah tentang seks dan anak.

Mulai dari pelesehan sampai ketidaktahuan tentang seks yang benar dan sehat. Semuanya menjadi salah. Selalu saja salah. Bagaimana kalau sampai ini terus berlanjut?! Bagaimana dengan masa depan?!

Sedih rasanya setiap kali mendengar cerita bagaimana perlakuan yang diterima oleh seorang anak. Tidak perlu harus mengalami pelecehan seksual ataupun kekerasan, tetapi mengetahui bagaimana mereka mendapatkan pendidikan soal seks saja sering membuat saya miris. Bagaimana tidak, ini semuanya menyangkut masa depan. Bukan hanya masa depan anak itu tetapi juga masa depan semua. Satu hal yang kecil yang kita abaikan bisa menjadi dinamit besar yang meledak di masa mendatang.

Yang paling mudah saja, misalnya soal nama organ seksual mereka.

Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk mengganti penis menjadi burung atau vagina menjadi kupu-kupu. Kenapa harus menjadi burung dan kupu-kupu?! Bagaimana membedakannya dengan burung dan kupu-kupu yang sebenarnya?! Bagaimana bila kemudian penis dan vagina itu menjadi sama dengan burung dan kupu-kupu yang bisa terbang?! Kalau kemudian jadi takut terbang dan dipegang terus bagaimana?! Kalau kemudian juga jadi merasa boleh terbang dan hinggap ke sana ke mari?! Ini sudah menjadi bahan penelitian karena sudah banyak menyebabkan masalah, lho?!

 

Sudah baca juga, kan, tulisan saya yang berjudul

“Mawar Merah Perempuan Muda“?! Menceritakan bagaimana ketidaktahuan dan juga kesalahpahaman tentang seks bisa menjerumuskan dan membahayakan?! Apa kemudian ini harus terus terjadi?!
Ada seorang anak jalanan yang pernah saya wawancarai. Waktu itu dia sudah berusia 16 tahun dan sedang hamil muda. Saya berani bertanya kepadanya karena dia sejak kecil sudah ada di perempatan jalan dekat salah satu TPU Karet di Jakarta dan saya sering berinteraksi dengannya. Waktu itu saya menanyakan siapa suaminya dan apakah dia menikah dengan pria yang menghamilinya?! Dia mengaku kalau dia memang menikah namun bukan dengan pria yang menghamilinya, tetapi memang dengan pria yang sering berhubungan badan dengannya. Yang menghamilinya dia tidak tahu pastinya. Soalnya, dia juga terkadang suka menjajakan diri bila sedang membutuhkan uang lebih banyak.

Pertanyaan saya pun berlanjut, saya ingin tahu lebih dalam lagi soal bagaimana

dia mengetahui dan melakukan seks. Dia mengaku kalau tahu pertama kali seks lewat masturbasi. Dia diajarkan oleh teman pria sesame anak jalanan yang usia lebih tua. Waktu dia pertama kali melakukannya ketika masih berumur sekitar sembilan tahun dan teman prianya itu berusia sekitar 14 tahunan. Dia diajarkan bagaimana melakukan masturbasi sendiri dan juga melakukan masturbasi untuk pria muda itu. Sedangkan melakukan hubungan seksual, dia lakukan pertama kali, juga dengan teman prianya yang lain. Seorang pemuda tanggung usia yang tinggal di dekat daerahnya sering mangkal. Apalagi kalau bukan dirayu dengan alasan cinta?! Hmmm….

Baca Juga :