Siklus Hidup Udang Galah

Siklus Hidup Udang Galah

udang galah dewasa akan memijah dan bertelur di air tawar. Sejak telur dibuahi hingga menetas diperlukan waktu 16-20 hari. Larva yang baru menetas memerlukan air payau sebagai lingkungan hidupnya. Apabila dalam jangka waktu 3 – 5 hari sesudah menetas tidak mendapatkan air payau, sebagian besar larva akan mati. Sejak stadia pertama hingga stadia pascalarva memerlukan air payau dengan kadar garam 5 – 20 promil.

Mulai telur menetas hingga metamorfosis menjadi pascalarva, terjadi 11 kali ganti kulit. Perubahan bentuk secara morfologis yang nyata ada 8 kali (8 stadia). Pada stadia 1 – 5, mengalami 5 kali ganti kulit, sedangkan pada stadia   6 – 8  mengalami 6 kali pergantian kulit. Dari masa telur menetas hingga menjadi pascalarva diperlukan waktu maksimal 45 hari. Sesudah menjadi juwana (sudah menyerupai morfologi udang dewasa), udang dapat hidup pada air tawar. Walupun demikian, juwana dapat hidup dan tumbuh pada lingkungan dengan salinitas 10 promil.

Persyaratan Lokasi

            Pemilihan lokasi merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pembenihan udang galah. Dalam kegiatan pembenihan, biasa dilakukan pada hatchery. adapun lokasi yang baik untuk membangun hatchery adalah :

a.Dekat dengan pantai yang tujuannya untuk mempermudah pengambilan air laut yang bersih.

b.Air tawar merupakan syarat mutlak yang diperlukan sebagai pengencer air laut. Larva udang galah hidup optimal pada salinitas 10-12 promil.

  1. Prasarana jalan. Demi lancarnya komunikasi timbal balik antara hatchery dengan kolam-kolam pembesaran. Tersebut akan memungkinkan para petani secara langsung melihat perkembangan dan tersedianya benih sepanjang tahun.

Persiapan Bak Pemeliharaan Larva

            kegiatan ini meliputi persiapan bak-bak pemeliharaan larva, bak penetasan telur, bak penetasan artemia, bak penampungan air bekas dan bak-bak filtrasi. Bak-bak tersebut dicuci sampai bersih, supaya bebas dari kotoran dan bakteri / parasit yang bersifat merugikan.

            untuk mencegah masuknya jasad renik yang dapat mengganggu terhadap kelangsungan hidup larva, maka air laut harus difilter lebih dahulu. Bak filter dapat dibuat dengan jalan memasang pasir dan ijuk. Kemudian air yang telah difilter dialirkan ke bak penampungan atau bak pencampuran. Bentuk bak penampungan dapat berbentuk persegi empat maupun silinder yang terbuat dari beton maupun ‘ferro cement’. Sedangkan ukuran bak ini tergantung kepada jumlah air yang dibutuhkan setiap hari.

            Sebagai tempat pemeliharaan larva diperlukan suatu wadah khusus yang disebut bak pemeliharaan larva. Biasanya berbentuk segi empat atau silinder dengan kapasitas antara 1-10 m3. Untuk mempermudah pengeringan maupun pemanenan juvenil bak tersebut dilengkapi dengan pipa paralon (PVC).

Baca juga:

Anda mungkin juga suka...