Tantangan Dakwah DDII Kemiskinan dan Buta Teknologi

Tantangan Dakwah DDII Kemiskinan dan Buta Teknologi

Tantangan Dakwah DDII Kemiskinan dan Buta Teknologi

Tantangan Dakwah DDII Kemiskinan dan Buta Teknologi
Tantangan Dakwah DDII Kemiskinan dan Buta Teknologi

kondisi sosial-ekonomi Kab Sambas saat ini memprihatinkan

. Misalnya, angka kemiskinan tinggi, perceraian usia produktif paling tinggi di Kalbar, dan narkoba semakin merasuki generasi belia.

“Kita memasuki era 4.0 yang mengharuskan kita menguasai piranti digital untuk berdakwah,” tutur Satono Ketua Dewan Dakwah Kab Sambas di Sambas, Kalimantan Barat, Jum’at (29/8).

Juru dakwah harus meningkatkan kepekaan sosialnya. Jangan misalnya, gadget malah membuat da’i menjadi asosial, tandasnya.

Acara yang diselenggarakan Dewan Dakwah Sambas itu diikuti 40 peserta.

Umumnya adalah alumnus Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Sambas dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) M Natsir, Jakarta.

Para peserta bertugas sebagai da’i di Kalimantan Barat, seperti di Sambas, Mempawah, Sanggau, Tebas, Pontianak, dan Kubu Raya.

H Satono, mengungkapkan, kondisi sosial-ekonomi Kab Sambas saat ini memprihatinkan. Misalnya, angka kemiskinan tinggi, perceraian usia produktif paling tinggi di Kalbar, dan narkoba semakin merasuki generasi belia.

“Ini semua adalah tantangan dakwah, yang memerlukan kepekaan dan kepedulian

dai untuk turut menanggulanginya,” tandas bakal calon bupati Sambas.

Dalam sambutannya selaku tuan rumah, Burhanuddin Rasyid mengungkapkan kelemahan dakwah di Sambas. Misalnya, para Lebai (amil) di kampung-kampung umumnya sudah tua dan tidak melek teknologi komunikasi. Dengan kondisi demikian, katanya, bagaimana Lebai menginformasikan perkembangan dakwah di tempat tugasnya.

 

 

Baca Juga :