Teknik Non Tes

 Teknik Non Tes

Dengan teknik non tes, asesmen atau evaluasi proses dan hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan melakukan observasi atau pengamatan, melakukan wawancara, menyebar angket, dan lain-lain.

  1. Pengamatan (Observation)

Menurut Sudijono (2005), observasi adalah cara menghimpun bahan- bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan.

Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar, misalnya tingkah laku peserta didik pada waktu guru pendidikan agama menyampaikan pelajaran di kelas, tingkah laku peserta didik pada jam-jam istirahat atau pada saat terjadinya kekosongan pelajara, perilaku peserta didik pada saat shalat jum’at di musholla sekolah, upacara bendera (Sudijono, 2005:77).

Observasi dapat dilakukan baik secara partisipatif (participant observation) maupun nonpartisipatif (nonparticipatif observation). Observasi dapat pula berbentuk observasi eksperimental (experimental observation) yaitu observasi yang dilakukan dalam situasi buatan atau berbentuk observasi yang dilakukan dalam situasi yang wajar (nonexperimental observation).

Pada observasi berpartisipasi, observer (dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan penilaian, seperti : guru, dosen, dan sebagainya) melibatkandiri di tengah-tengah kegiatan observer (dalam hal ini peserta didik yang sedang diamati tingkah lakunya, seperti murid, siswa, mahasiswa, dan sebagainya) sedangkan pada observasi nonpartisipasi, evaluator berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.

Pada observasi eksperimental di mana tingkah laku yang diharapkan muncul karena peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka observasi memerlukan perencanaan dan persiapan yang benar- benar matang, sedangkan pada observasi yang dilakusanakan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana karena observasi semacam ini dapat dilakukan secara sepintas lalu saja.

Jika observasi digunakan sebagai alat evaluasi, maka harus selalu diingat bahwa pencatatan hasil observasi itu pada umumnya jauh lebih sukar daripada mencatat jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes, ulangan atau ujian, sebab respon yang diperoleh dalam observasi adalah berupa tingkah laku.

Mencatat tingkah laku adalah merupakan pekerjaan yang sulit, sebabdi sini observer selaku evaluator harus dapat dengan secara cepat mencatatnya.

Pencatatan terhadap segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sekali sebab hasilnya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung dibalik tingkah laku peserta didik tersebut.

baca juga :

Anda mungkin juga suka...